Rabu, 14 November 2018 – 12:24 WIB

Geliat Negeri Tulehu setelah Dinobatkan sebagai Kampung Sepak Bola

Rabu, 11 Maret 2015 – 16:52 WIB
Geliat Negeri Tulehu setelah Dinobatkan sebagai Kampung Sepak Bola - JPNN.COM

Pemain timnas era 1980-an Muhtadi Lestaluhu di depan tugu selamat datang desanya, Negeri Tulehu, Maluku Tengah. Foto: Sidik Maulana Tauleka/Jawa Pos

Tulehu gila bola. Itu sudah banyak orang yang tahu. Tapi, bagaimana kampung tersebut setelah dinobatkan sebagai kampung sepak bola? Itulah yang belum diketahui banyak orang.

Laporan Sidik Maulana Tualeka, Maluku

CUACA di Pulau Ambon siang itu (6/3) terasa berbeda. Pasalnya, tidak seperti hari-hari biasanya yang basah oleh hujan, hari itu sangat cerah. Tidak ada awan yang menggantung di langit. Warga pun beraktivitas dengan nyaman. Termasuk warga Negeri (Desa) Tulehu di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

Misalnya, yang dirasakan Salim Ohorela, 37, tukang ojek yang sehari-hari mangkal di mulut gang desa sepak bola itu. Bila seharian hujan turun, pasti tidak banyak orang bepergian yang bisa dia angkut.

’’Apalagi beta (saya, Red) sedang membutuhkan banyak uang. Beta perlu beli sepatu dan bola untuk anak laki-laki bungsu di rumah,’’ ujar Salim.

Salim adalah contoh betapa sepak bola begitu mewarnai kehidupan orang-orang di Tulehu. Peralatan bermain sepak bola seolah menjadi kebutuhan wajib yang harus ada di rumah. Sebab, hampir semua orang tua di sana berharap anak-anak laki-laki mereka kelak tumbuh menjadi pemain sepak bola hebat. Tidak terkecuali Salim yang menggadang-gadang putranya, Ridwan Ohorela, 9, untuk bisa mengikuti jejak para pesepak bola dari kampung itu yang banyak menghuni klub-klub anggota liga profesional.

Kecintaan orang Tulehu terhadap sepak bola memang bukan hal baru. Namun, olahraga paling populer sejagat itu semakin dalam menjadi bagian dari kehidupan warga desa tersebut setelah Tulehu dinobatkan sebagai kampung sepak bola Februari lalu. Karena itu, semakin banyak orang tua yang memutuskan jalur sepak bola sebagai jalan untuk mengejar kehidupan yang lebih baik.

Alhasil, lapangan bola yang biasanya hanya ramai bila ada turnamen antarkampung kini setiap hari selalu ramai. Anak-anak berebut dengan orang dewasa untuk bermain di satu-satunya lapangan sepak bola standar di sana, Lapangan Matawaru.

SHARES
TAGS   features
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar