Gempa Maras

Oleh: Dahlan Iskan

Gempa Maras
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Saat itu juga Hamam tahu, semuanya selamat. Ia juga langsung berkoordinasi dengan Kedubes RI di Ankara.

Baca Juga:

Semua mahasiswa diungsikan ke Wisma Indonesia di ibu kota Turki itu. Keesokan harinya. Naik dua mobil besar. Sejauh 5 jam ke arah utara.

Hamam lulusan SMA Islam Terpadu IHSANUL FIKRI di Magelang. Ayahnya seorang guru. Ia pilih kuliah di Maras dengan logikanya sendiri: masih sedikit mahasiswa Indonesia di kota ini.

Kenapa korban gempa ini begitu besar? Bukankah skala gempa ini 7,8 SR? (Gempa Lombok 2018: 7 SR).

"Banyak sekali gedung 4 lantai atau lebih tinggi lagi," ujar Hamam.

"Juga karena ada gempa susulan yang juga keras sekali," tambahnya.

"Bersyukur kota ini jauh dari laut. Tidak terjadi tsunami," tambahnya.

Kota Marash boleh dikata sangat terpencil –dilihat dari Istanbul. Nama kota Marash ditambah dengan "Kahraman" di depannya untuk menghormati peranan kota itu di sejarah perjuangan Turki.

Tanah Arab di selatan bergerak ke utara: membentur daratan Turki. Lalu daratan Turki itu bergeser ke barat. Begitulah ahli gempa menjelaskan ke berbagai media.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News