Gempa Sulteng: Likuifaksi Itu Seperti Mengetuk Stoples Kue

Gempa Sulteng: Likuifaksi Itu Seperti Mengetuk Stoples Kue
Seorang pria di tengah kerusakan di Petobo. Foto: Bay Ismoyo/AFP

jpnn.com, SIGI - Fenomena likuifaksi (pencairan tanah) atau tanah bergerak terjadi di sejumlah daerah di Sigi, Sulawesi Tengah usai gempa bumi melanda, Jumat (28/9).

Dewan penasihat Ikatan Ahli Geologi Indonesia Rovicky Dwi Putrohari menjelaskan likuifaksi terjadi karena adanya getaran gempa, bukan karena tsunami. Fenomena ini menurutnya banyak dan hampir semua fenomena kegempaan muncul likuifaksi.

"Likuifaksi terjadi karena ada getaran gempa yang memicu terjadinya fraksi (butiran) kasar yang terkumpul di bawah dan butiran halus serta air akan keluar," kata Rovicky.

Fenomena ini mengakibatkan turunnya daya dukung tanah terhadap tekanan di atasnya. Likuifaksi merupakan fenomena alamiah yang terjadi karena adanya aktivitas kegempaan.

"Likuifaksi ini kalau diibaratkan seperti kita sedang mengetuk-ngetuk stoples kue untuk memasukkan suatu benda supaya ada banyak yang masuk ke dalamnya. Ini menyebabkan cairan atau material halus berada di atas," imbuhnya.

Rovicky yang sudah lebih dari 25 tahun berkecimpung di bidang geologi ini mengatakan likuifaksi terjadi pada lapisan di bawah tanah yang biasanya berupa butiran berukuran pasir. Air yang tersimpan di dalamnya akan ikut terbawa keluar ketika terjadi likuifaksi.

Proses inilah yang kemudian membuat tanah bercampur air menjadi lumpur yang keluar dari dalam perut bumi.

Untuk terhindar dari likufaksi, ia mengatakan biasanya lapisan tanah yang berupa pasir dikeringkan sebelum membuat bangunan di atasnya. Untuk konstruksi bangunan bertingkat tinggi, menurutnya ada soil boring untuk melihat apakah ada hal-hal yang dikhawatirkan terjadi likuifaksi.

Likuifaksi ini bukan akibat beban di atasnya, tetapi akibat getaran gempa. Namun, gejala likuifaksi bisa merusak konstruksi di atasnya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News