Gim Berbayar Bisa Berdampak Negatif pada Nilai Akademis dan Lingkungan

Gim Berbayar Bisa Berdampak Negatif pada Nilai Akademis dan Lingkungan
Webinar edukasi yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi pada Kamis (13/4). Foto: GNLD Siberkreasi

jpnn.com, LUWU TIMUR - Sebanyak 10.143 siswa dari 203 SD dan SMP di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, diajak untuk bijak ketika bermain gim.

Ajakan itu disampaikan dalam webinar edukasi yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi pada Kamis (13/4).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Luwu Timur La Besse mengatakan kesopanan dan kesantunan menipis akibat digitalisasi, sehingga perlu diimbangi dengan pendidikan tiga kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual, sosial, dan spiritual.

Dia menambahkan siswa perlu menjadikan pula Pancasila sebagai landasan kecakapan digital dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara.

“Pancasila sebagai landasan kecakapan digital dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara. Selain itu, kita juga perlu mencintai produk dalam negeri dan berpartisipasi dalam kegiatan produktif. Mari kita bangga menggunakan produk dalam negeri mulai dari sepatu, tas, alat tulis, dan lainnya,” ujarnya.

Manajer Ceritasantri.id Aina Masrurin mengatakan anak-anak yang kecanduan game online terutama gim berbayar, dapat berdampak negatif pada akademik dan lingkungan.

Koordinator Media PW Fatayat NU DIY itu juga menilai gim berbayar bisa memberatkan secara finansial kepada orang tua.

Karena itu, menurutnya, perlu ada kontrol dari keluarga terhadap gawai maupun kepada sang anak.

Anak-anak yang kecanduan game online, terutama gim berbayar, dapat berdampak negatif pada akademik dan lingkungan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News