Gott ist Tott

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Gott ist Tott
Gelandang serang Jerman Kai Havertz (7) saat beraksi di jantung pertahanan Portugal. Foto: Twitter@EURO2020

Auffklarung melahirkan filsafat positivisme yang menganggap bahwa hanya hal yang bisa dibuktikan oleh indra saja yang boleh dipercaya akal. Hal-hal yang gaib, seperti Tuhan dan hari kiamat, dianggap tidak rasional dan tidak perlu dipercaya. Dari situ lahirlah ateisme yang dianut Nietzsche.

Baca Juga:

Karena manusia sudah tercerahkan, mereka menjadi bebas karena sudah menguasai ilmu dan teknologi, maka Nietzsche kemudian memproklamasikan bahwa Tuhan telah mati. Manusia tidak membutuhkan Tuhan lagi karena sudah menguasai ilmu pengetahuan. Manusia menjadi adi-manusia, manusia super, yang bisa mengatur dunia karena menguasai sains dan teknologi.

Ketika kesebelasan Jerman kalah dari Prancis 0-1 dalam laga pembuka Euro 2020 di Allianz Arena, Rabu (16/6), suporter Jerman yang kecewa meneriakkan "Gott ist Tott", Tuhan telah mati. Mereka kecewa karena Tuhan tidak berpihak kepada tim Jerman. Teriakan ini disuarakan oleh fan Jerman yang percaya kepada Tuhan.

Dan ketika Jerman dini hari tadi (20/6) bermain gila-gilaan dan menggilas Portugal 4-2, sebagian suporter mungkin ada yang tetap meneriakkan "Gott ist Tott". Cuma bedanya suporter ini memang penganut ateisme yang tidak percaya kepada Tuhan.

Karena tidak percaya kepada Tuhan, maka suporter ini yakin bahwa Jerman punya keunggulan dari tim lain, karena tim Jerman dibangun di atas pondasi sains dan teknologi melalui sport science yang canggih. Dibanding dengan tim lain di Eropa, Die Mannschaft memang dikenal sebagai tim mesin yang dibangun di atas kecanggihan sport science.

Pertandingan lawan Portugal menjadi sebuah thriller dengan enam gol yang sangat menegangkan.

Ketika mengalami kekalahan di laga perdana dari Prancis, ada kekhawatiran bahwa Jerman akan kembali mengalami nasib buruk seperti di Piala Dunia 2018, dan tersingkir di fase grup.

Namun, menjelang pertandingan, beberapa penggawa inti Jerman seperti Thomas Muller, mengatakan bahwa timnya tidak takut, dan tetap yakin akan bisa mengatasi sang juara bertahan Portugal.

Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimana kita akan menghibur diri kita, pembunuh semua pembunuh.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News