Gott ist Tott

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Gott ist Tott
Gelandang serang Jerman Kai Havertz (7) saat beraksi di jantung pertahanan Portugal. Foto: Twitter@EURO2020

jpnn.com - Orang Jawa punya ungkapan "Gusti Allah Mboten Sare", Tuhan tidak tidur, untuk menggambarkan bahwa Tuhan akan mengatur segala sesuatu, dan kita cukup menyerahkan semua urusan kepada Tuhan.

Ungkapan itu khas orang Jawa yang selalu nerima ing pandum, menerima bagiannya, dan sumeleh, tidak memaksakan diri.

Dalam kesulitan apa pun orang Jawa akan menyerahkan semua urusan kepada Tuhan karena yakin Tuhan tidak tidur.

Baca Juga:

Lain lagi dengan di Jerman. Filosof Friedrich Nietzsche (1844-1900) mengatakan bahwa "Gott ist Tott", Tuhan telah mati. Lengkapnya, Nietzsche mengatakan, "Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya".

Nietzsche melanjutkan, bagaimana kita akan menghibur diri kita sendiri, pembunuh semua pembunuh? Apa yang paling suci dan terkuat dari semua yang dimiliki oleh dunia telah mati hingga mati di bawahnya? Pisau kita: siapa yang akan menghapus darah ini dari kita?

Air apa yang ada untuk kita membersihkan diri kita? Perayaan penebusan apa, permainan suci apa yang harus kita ciptakan? Bukankah kehebatan perbuatan ini terlalu besar untuk kita? Haruskah kita sendiri tidak menjadi tuhan hanya untuk kelihatan layak?

Baca Juga:

Pernyataan Nietzsche itu diungkapkan untuk menegaskan bahwa dengan munculnya pencerahan, aufklarung, renaissance, maka manusia menjadi makhluk yang bebas yang tidak lagi dikendalikan oleh agama yang dianggap sebagai belenggu. Agama ditinggalkan dan mereka ditelantarkan.

Dengan auffklarung, manusia menemukan ilmu pengetahuan yang menjadikannya manusia rasional dan berpengetahuan.

Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimana kita akan menghibur diri kita, pembunuh semua pembunuh.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News