Guru dan Kepsek Masih Bingung Menjabarkan Program Merdeka Belajar

Guru dan Kepsek Masih Bingung Menjabarkan Program Merdeka Belajar
Indra Charismiadji dan Ketum IGI Muhammad Ramli Rahim. Foto: tangkapan layar dialog daring/Mesya/JPNN.com

Dia menilai, Merdeka Belajar hanya jadi jargon Mendikbud Nadiem. Faktanya di lapangan, sulit dijalankan.

Dia mencontohkan, RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) satu lembar yang dari sebelumnya berpuluh-puluh lembar.

Guru-guru bingung menerjemahkan makna satu lembar. Alhasil mereka menuliskan dengan menyingkat kata.

"Tulisan yang disingkat yg. Dapat jadi dpt, yang bersangkutan jadi ybs. Hal inilah yang membuat guru bingung sementara dari Kemendikbud tidak dijelaskan detail. Alasannya enggak mau mendikte biar merdeka," ucapnya.

Ketua Forum Guru Muhammadiyah, H Pahri juga berpendapat sama. Merdeka Belajar dinila sebagai pencitraan Mendikbud Nadiem.

Seolah-olah ingin memberikan kebebasan kepada guru dan kepala sekolah mengatur sekolah tetapi malah bikin bingung.

"Empat program Merdeka Belajar belum ada yang dilaksanakan. Guru dan Kepsek diminta kreatif serta inovasi. Mendikbud dan jajarannya malah dari hasil evaluasi kami enggak kreatif dan inovatif, komunikasi buruk dan tidak ada kolaborasi dengan daerah," tegasnya.

Aris Adi Leksono selaku Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama malah memberikan nilai D dan E untuk komunikasi, kolaborasi, critical thinking, kreativitas dan inovasi Mendikbud serta jajarannya.

Sejumlah pengamat pendidikan menilai guru dan kepala sekolah masih bingun menjalankan program Merdeka Belajar yang dicanangkan Nadiem Makarim.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News