Guru dan Kepsek Masih Bingung Menjabarkan Program Merdeka Belajar

Guru dan Kepsek Masih Bingung Menjabarkan Program Merdeka Belajar
Indra Charismiadji dan Ketum IGI Muhammad Ramli Rahim. Foto: tangkapan layar dialog daring/Mesya/JPNN.com

"Enam bulan ini Mendikbud Nadiem bekerja, kami sulit berkomunikasi dengan menteri. Demikian juga stafsus maupun dirjennya. Padahal kami ini bukan organisasi abal-abal. Surat kami tidak direspons padahal kami ingin mendapatkan informasi jelas mengenai Merdeka Belajar," terangnya.

Sementara Indra Charismiadji dari Vox Point Indonesia memberikan
nilai D untuk komunikasi dan kolaborasi karena memang hampir tidak komunikasi ke publik tentang program-program Kemedikbud secara jelas.

Kolaborasi dengan pihak pemda juga tidak ada karena tidak ada komunikasi tadi.

"Padahal pendidikan itu diotonomikan. Jika tidak ada kolaborasi pasti kacau dan jalan sendiri-sendiri," ujarnya.

Untuk kreatif Indra memberikan nilai C karena tidak ada ide-ide baru yang fresh. Semuanya biasa dan sudah pernah dibahas.

Nilai C+ untuk berpikir kritis karena berani mengganti UN dan adanya program Kampus Merdeka yang cukup baik.

Sayangnya target literasi, numerasi, dan sains jauh dari rata-rata OECD.

"Intinya butuh banyak perbaikan Mendikbud Nadiem bersama jajarannya. Sebab, Kemendikbud yang bertugas mengawal ketrampilan abad 21 ternyata belum mampu menerapkannya. Seperti rekomendasi teman-teman dari organisasi profesi guru, Mendikbud harus remedial karena nilainya di bawah standar," tandas Indra. (esy/jpnn)

Sejumlah pengamat pendidikan menilai guru dan kepala sekolah masih bingun menjalankan program Merdeka Belajar yang dicanangkan Nadiem Makarim.


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News