JPNN.com

Harga Minyak Mentah Terus Jatuh ke Level Terendah

Jumat, 28 Februari 2020 – 10:49 WIB
Harga Minyak Mentah Terus Jatuh ke Level Terendah - JPNN.com
Ilustrasi minyak dunia. Foto: pixabay

jpnn.com, JAKARTA - Harga minyak terus jatuh dalam lima hari berturut-turut pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), ke level terendah. Epidemi virus corona yang mengganas masih jadi faktor utama pada kondisi tersebut.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April, turun 1,25 dolar AS atau 2,3 persen, menjadi menetap di 52,18 dolar AS per barel. Brent mencapai terendah sesi di 50,97 dolar AS per barel, yang merupakan tingkat terendah sejak Desember 2018.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, merosot 1,64 dolar AS atau 3,4 persen, menjadi ditutup di 47,09 dolar AS per barel, merupakan level terendah sejak Januari 2019. WTI sempat diperdagangkan pada 45,88 dolar AS per barel pada titik terendahnya hari tersebut.

Awal pekan ini, untuk pertama kalinya sejak wabah meletus, jumlah infeksi virus corona baru yang dilaporkan di luar Tiongkok melebihi kasus baru di Tiongkok.

Pasar-pasar risiko lainnya juga merosot pada Kamis (27/2). S&P 500 mengalami kerugian satu hari terbesar sejak Agustus 2011 dan Dow Jones Industrial Average menandai penurunan poin satu hari terbesarnya, karena investor melarikan diri ke aset yang aman seperti obligasi pemerintah dan emas. Kemerosotan dalam ekuitas global telah menghapus nilai lebih dari tiga triliun dolar AS minggu ini.

"Minyak dalam terjun bebas karena besarnya upaya karantina global akan memberikan penghancuran permintaan parah untuk beberapa kuartal berikutnya," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

Sekitar satu juta kontrak berjangka minyak mentah AS berpindah tangan pada Kamis (27/2), hari tersibuk perdagangan sejak awal Januari. Harga acuan telah jatuh hampir 14 persen dalam lima hari terakhir perdagangan.

Perdagangan di pasar minyak menunjukkan investor memperkirakan periode kelebihan pasokan yang berkepanjangan, dengan penurunan permintaan karena virus telah menyebar ke ekonomi besar termasuk Korea Selatan, Jepang dan Italia.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
ridha