Hari AIDS Dirayakan Saat Anak Indonesia dengan HIV Masih Kesulitan Obat

Hari AIDS Dirayakan Saat Anak Indonesia dengan HIV Masih Kesulitan Obat
Anggota Komunitas Literasa Kolektif dalam sebuah eksperimen sosial untuk mengedukasi masyarakat pada peringatan hari AIDS sedunia tahun lalu. (Foto: Antara, Maulana Surya)

Tapi Tasya dan Ayu sama-sama menyayangkan cara Pemerintah Indonesia "merayakan" hari AIDS sedunia pekan ini yang diperingati dengan rangkaian parade memecahkan rekor MURI sebagai acara terbesar, terpanjang, dan terunik dalam rangka 10 tahun menuju akhir AIDS 2030.

Hari AIDS Dirayakan Saat Anak Indonesia dengan HIV Masih Kesulitan Obat Photo: Natasya Sitorus dari Lentera Anak Pelangi menyayangkan peringatan hari AIDS Sedunia di Indonesia oleh Kemenkes yang disebutnya sebagai 'selebrasi tanpa hati'. (Koleksi Pribadi)

 

"Yang disayangkan adalah ketika Kementerian Kesehatan dalam hal ini sebagai Pemerintah Indonesia memilih untuk melakukan selebrasi tanpa hati," kata Tasya.

"Karena menurut kami ... hari AIDS sedunia itu bukan untuk diselebrasikan, tatapi untuk diperingati. Artinya tidak perlu ada pemecahan rekor MURI dengan melakukan berbagai kegiatan online di 34 provinsi dan lain sebagainya, tapi lupa untuk melibatkan teman-teman yang HIV dan komunitas, serta mengingat mereka."

Apalagi, tema hari Aids sedunia yang diusung Indonesia tahun ini adalah "Perkuat Kolaborasi, Tingkatkan Solidaritas Antar Pemangku Kepentingan untuk Menuju 10 Tahun Akhiri AIDS di 2030".

Tasya menambahkan, hari AIDS sedunia itu selayaknya momentum untuk merefleksikan kembali perjuangan perjalanan selama tiga dekade HIV di Indonesia, apalagi masih banyak anak-anak dengan HIV masih susah memperoleh obat.

"Di tengah-tengah selebrasi yang gegap gempita, masih ada anak-anak dengan HIV yang kesulitan minum obat. Salah satu dampingan kami, karena salah satu obat itu tidak tersedia, mereka harus minum obat dewasa yang digerus sendiri," tambah Tasya.

Sementara Ayu berharap pemerintah memegang komitmen dan bersungguh-sungguh dalam menangani HIV/AIDS di Indonesia.

Pada tahun 2009, Ayu Oktariani untuk pertama kalinya mengetahui bahwa ia terinfeksi 'human immunodeficiency virus' atau HIV

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News