HMS Center: Memaksakan Penerapan New Normal Sama Saja Bunuh Diri

HMS Center: Memaksakan Penerapan New Normal Sama Saja Bunuh Diri
Ketum Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS) Center, Hardjuno Wiwoho (kiri) saat menggelar Bakti Sosial di SMP/SMK Karya Putra Bangsa, Kelurahan Cimpaeun, Tapos, Kota Depok, Sabtu (30/5). Foto: HMS Center

jpnn.com, DEPOK - Ketua Umum Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS) Center, Hardjuno Wiwoho mengatakan transisi New Normal atau tatanan baru harus disiapkan secara teliti melalui kajian yang komprehensif dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing wilayah.

Hal ini sangat penting guna mengurangi ekses negatif dari penerapan new normal itu.

“Saya kira, implementasi new normal itu memang tidak bisa dihindari. Namun harus melalui kajian yang matang. Jangan terburu-buru karena ini menyangkut nyawa rakyat Indonesia,” ujar Hardjuno saat menggelar Bakti Sosial (Baksos) di SMP/SMK Karya Putra Bangsa, Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (30/5).

Kegiatan Baksos ini juga dihadiri Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Harris Bobihoe, Anggota DPRD Kota Depok yang juga Ketua Satgas Lawan Covid-19 DPRD Kota Depok, Hamzah, Anggota DPRD Kota Depok yang juga ulama Ustaz Irfan dan tokoh masyarakat, KH. Robby.

Selain itu, hadir juga Ketua Dewan Pembina HMS Center Mayjend TNI (Purn) Syamsu Djalal,  Dewan Pembina HMS Center Lily Wahid, Sekretaris Umum HMS Center Darma Alwi, Bendahara Umum HMS Center Pambudi Pamungkas Karyo, Ketua Bidang Hukum HMS Center Rahmat Hijjir dan Ketua OKK HMS Center Fitriyadi.

Turut hadir dalam kegiatan Baksos ini Ketua Harian Paguyuban Lamahu Gorontalo di Jakarta, H. Hamzah Isa dan Wasekjen Lamahu, Syaifullah Ngiu.

Dalam Baksos ini, HMS Center memperkenalkan jamu Herbal Kenkona serta meminta testimoni Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna.

Tak lupa, HMS Center membagikan sekitar 2.000 paket Jamu Herbal Kenkona kepada masyarakat di Tapos Depok.

Implementasi new normal itu memang tidak bisa dihindari, tetapi harus melalui kajian yang matang. Jangan terburu-buru karena ini menyangkut nyawa rakyat Indonesia.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News