HNW: Indonesia Berdiri di Atas Kesepakatan Para Pendiri Bangsa

HNW: Indonesia Berdiri di Atas Kesepakatan Para Pendiri Bangsa
Wakil Ketua MPR HIdayat Nur Wahid berbicara secara virtual di acara Temu Tokoh Nasional/ Kebangsaan di hadapan keluarga besar Yayasan Pendidikan Ruhama Depok, Kamis (5/11). Foto: Humas MPR RI/

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengingatkan Republik Indonesia adalah negara yang memiliki potensi perpecahan sangat besar bahkan lebih besar dari Uni Soviet, negara yang saat ini sudah hilang dari peta dunia. Bekas wilayah Soviet sudah menjadi negara-negara kecil yang memiliki nama sendiri-sendiri.

Padahal, katanya, dibanding Indonesia, Soviet memiliki kekuatan militer yang lebih kuat. Mereka mampu menjaga wilayahnya dari ancaman negara lain. Pada masa kejayaannya, Soviet satu-satunya negara yang bisa menyaingi persenjataan militer Amerika.

Selain itu, sebagian besar wilayah Uni Soviet merupakan daratan, sehingga lebih mudah dipantau dan diatur. Berbeda dengan Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau dan kebanyakan wilayahnya berupa lautan.

"Keberagaman di Indonesia jauh lebih besar dibanding Uni Soviet. Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku bangsa dan bahasa. Selain itu, Indonesia juga memiliki keragaman agama. Semua itu membuat potensi perpecahan di Indonesia sangat tinggi," kata Hidayat.

Pernyataan itu disampaikannya secara virtual saat menjadi pembicara pada acara Temu Tokoh Nasional/ Kebangsaan di hadapan keluarga besar Yayasan Pendidikan Ruhama Depok. Acara tersebut berlangsung di ruang pertemuan SMPIT-SMAIT Ruhama, Cilangkap, Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (5/11). Selain Hidayat forum itu menghadirkan pembicara dari  tokoh masyarakat Jawa Barat TB.  Soenmandjaja.

Hidayat melanjutkan, yang membuat Indonesia tetap bersatu, meskipun ancaman perpecahan sangat besar, karena negara ini berdiri di atas kesepakatan para pendirinya. Salah satunya adalah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Dalam sumpah tersebut seluruh perwakilan pemuda dari berbagai wilayah di Tanah Air menyatakan tekat bulatnya untuk meleburkan diri ke dalam bangsa, bahasa dan Tanah Air Indonesia.

"Padahal, saat datang di acara tersebut, masing masing perwakilan pemuda itu memiliki bangsa dan bahasa yang berbeda-beda. Tetapi mereka mau menerima kesepakatan untuk meleburkan diri ke dalam bangsa, bahasa dan Tanah Air Indonesia," ucap pimpinan MPR yang beken disapa dengan inisial HNW ini.

Selain Sumpah Pemuda, Hidayat menyebut kesepakatan tentang dasar dan Ideologi Pancasila yang terjadi pada 18 Agustus 1945, membuat persatuan dan kesatuan Indonesia semakin kokoh. Padahal, sebelum Pancasila disepakati sebagai dasar dan ideologi negara, sempat terjadi ketegangan yang berpotensi menyebabkan perpecahan.  

Wakil Ketua MPR HIdayat Nur Wahid mengingatkan potensi perpecahan yang ada di Indonesia sangat besar.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News