JPNN.com

Hubungan Tekanan Darah Tinggi dan Sakit Gigi

Kamis, 12 September 2019 – 23:26 WIB Hubungan Tekanan Darah Tinggi dan Sakit Gigi - JPNN.com

jpnn.com - Jika Anda mengerutkan dahi saat membaca judul artikel di atas, artinya Anda baru tahu bahwa ada hubungan antara tekanan darah tinggi dan sakit gigi. Nah dalam rangka menyambut Hari Kesehatan Gigi dan Mulut, tidak ada salahnya Anda mengenali hubungan keduanya dengan menyimak artikel ini.

Tekanan darah tinggi alias hipertensi adalah suatu penyakit berbahaya yang kasusnya banyak ditemukan. Data yang ada menyebut bahwa penyakit ini terjadi pada 26 persen atau sekitar 972 juta penduduk dunia.

Normalnya, tekanan darah saat jantung memompa darah (sistolik) adalah kurang dari 120 mmHg dan tekanan darah saat jantung istirahat (diastolik) adalah 80 mmHg. Pada penderita hipertensi, tekanan darah mengalami peningkatan secara abnormal dengan tekanan sistolik di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.

Seseorang yang terindikasi mengalami hipertensi mesti mengendalikan tekanan darah agar tetap berada di rentang optimal. Apabila abai, risiko terjadinya penyakit kardiovaskular seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan aneurisma bisa melonjak tinggi.

Tak hanya itu, hal lain yang sering menjadi masalah tambahan pada penderita hipertensi adalah munculnya keluhan sakit gigi.

Tekanan darah tinggi dan sakit gigi
Penderita hipertensi umumnya harus mengosumsi obat-obatan khusus untuk mengendalikan kondisinya. Sayangnya, sebagian obat antihipertensi dapat menganggu produksi air liur sehingga menimbulkan keluhan mulut kering (xerostomia). Kondisi ini dapat meningkatkan risiko karies atau gigi berlubang, karena fungsi air liur sebagai self cleansing menjadi tidak optimal.

Lebih lanjut, saat kerusakan gigi sudah terjadi dan tidak ada tindakan penanganan, penderita hipertensi akan mengalami rasa nyeri yang tidak tertahankan. Keluhan ini dapat menimbulkan stres, sehingga memicu lonjakan tekanan darah. Alhasil, perawatan hipertensi akan lebih sulit untuk dilakukan.

Di sisi lain, apabila penderita hipertensi memutuskan untuk mengatasi sakit gigi, tindakan penanganan tidak boleh dilakukan sembarangan. Penderita hipertensi perlu terlebih dahulu mengontrol tekanan darah agar berada di rentang optimal. Setelah itu barulah tindak lanjut masalah sakit gigi bisa dilakukan. Jika tidak demikian, perdarahan hebat sangat mungkin terjadi.

Contoh, penderita hipertensi mengalami gigi berlubang sehingga harus dilakukan tindakan pencabutan. Apabila penderita hipertensi tidak mengontrol tekanan darah agar tetap optimal, terjadinya pecah pembuluh darah tak bisa dihindari lagi. Ini karena obat bius (anestesi) yang digunakan pada proses pencabutan gigi berefek pada penyempitan pembuluh darah. Apabila laju tekanan darah sangat cepat (tinggi), pembuluh darah bisa saja pecah dan mengakibatkan perdarahan hebat.

Atas dasar itu, sebelum melakukan pencabutan atau perawatan gigi, penderita hipertensi perlu mendapatkan evaluasi terlebih dahulu. Evaluasi yang dimaksud mencakup ada – tidaknya – riwayat keluarga terhadap penyakit kardiovaskular, obat-obatan yang dikonsumsi rutin, tingkat keparahan penyakit, serta komplikasi yang sudah terjadi.

Memang bukan perkara mudah untuk berurusan dengan penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi. Kondisi ini perlu diperlakukan secara khusus, apalagi bila penderita juga mengalami sakit gigi di saat bersamaan. Maka, apabila Anda adalah penderita penyakit tekanan darah tinggi yang juga mengalami keluhan sakit gigi, rutinlah mengontrol kondisi kesehatan, baik ke dokter umum maupun dokter gigi agar terjadinya komplikasi bisa dihindari.(NB/RVS/klikdokter)

Sumber klikdokter

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...