Hujan Buatan Berhasil, Pemerintah Tetap Antisipasi Karhutla

Hujan Buatan Berhasil, Pemerintah Tetap Antisipasi Karhutla
Manggala Agni bersama TNI- Polri padamkan Karhutla. Foto dok humas KLHK

jpnn.com, JAKARTA - Upaya menanggulangi asap akibat kebakaran hutan dan lahan terus dilakukan pemerintah. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) telah dilakukan di sejumlah daerah rawan karhutla.

Sejauh ini, kegiatan rekayasa cuaca dilakukan di Provinsi Riau yang menjangkau wilayah Jambi, hingga 25 September 2019 operasi telah dilakukan dengan total sebanyak 20 sorti yang menghasilkan jumlah air hujan sebanyak 259 juta m³.

Sementara itu, di Provinsi Sumatera Selatan Operasi TMC dilakukan 24-25 September 2019 dengan hasil air 30 juta m³.

Di Provinsi Kalimantan Barat, operasi dilakukan dengan hasil 86 juta m³ air, dengan 10 kali sorti.

Untuk pertumbuhan awan hujan, lebih berpotensi didapati di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan untuk wilayah yang masih sangat perlu diwaspadai adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara.

Dalam pertemuan dengan media hari ini Kamis, (26/9), Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Doni Munardo, dalam paparannya menyampaikan bahwa, tahun 2019 ini memang merupakan tahun yang kondisinya mirip dengan tahun 2015 lalu, dengan jangka kemarau yang lebih panjang.

Tahun ini menurut data SIPONGI KLHK (www.sipongi.menlhk.go.id) memang terdapat kenaikan jumlah titik panas sebesar 89,75% atau sebanyak 3.355 titik bila dibanding tahun 2018. Namun, jumlah ini masih lebih kecil bila dibanding tahun 2015 lalu.

Doni kemudian menjelaskan bahwa karhutla di Indonesia merupakan ancaman permanen, solusinya pun perlu bersifat permanen, sosialisasi terpadu pentahelix telah dilakukan sejak Februari, dan ini perlu kerja sama dengan berbagai pihak, terutama pemerintah daerah.

Beberapa wilayah di Indonesia memang mengalami 60 hari tanpa hujan sehingga mengakibatkan permukaan air di kawasan gambut megering dan mudah terbakar.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News