Indonesia Butuh Perbaikan Iklim dan Insentif

Sektor Riil Masih Stabil

Indonesia Butuh Perbaikan Iklim dan Insentif
KRISIS GLOBAL: Deputi gubernur BI senior Miranda Gultom, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Darmin Nasution, dan Menkeu Sri Mulyani saat memberi keterangan pers di gedung Depkeu, Kamis (9/10). Konpres mengenai dampak krisis global terhadap perekonomian Nasional. Foto; AGUS WAHYUDI / JAWA POS
Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Sutan P. Siregar menuturkan, perusahaan-perusahaan sepatu mayoritas masih terikat kontrak pembelian dari berbagai negara hingga Maret 2009. ''Tapi, memang ada sebagian perusahaan di Jawa Barat yang dikontrak dari Amerika. Itu mungkin yang terganggu,'' jelasnya.

Namun, secara keseluruhan, dia yakin industri sepatu tetap eksis hingga kuartal pertama 2009. Apalagi, beberapa perusahaan sepatu besar kelas dunia mulai merelokasi pesanan sepatunya dari Vietnam ke Indonesia, seperti Spalding dan lainnya. Yang membuat sedikit khawatir adalah kondisi setelah Maret 2009. ''Apakah kontrak-kontrak tahunan itu diperpanjang atau tidak, itu yang harus diantisipasi,'' tegasnya.

Yang juga menjadi kendala adalah pembelian bahan baku yang masih menggunakan kurs Rp 9.100 per dolar AS. Kontrak pembelian bahan baku impor tersebut dilakukan pada Maret 2008 yang berarti akan di-review Maret 2009. ''Jika kurs rupiah terus melemah, kami khawatir margin yang didapat semakin kecil. Tapi, intinya, kami ingin pemerintah tetap menjaga kondisi dalam negeri agar iklim usaha tetap kondusif,'' ujarnya.

Tercekik Kenaikan Bunga

JAKARTA - Di tengah pasar finansial yang bergejolak, ternyata ada sektor riil yang belum terkena dampak. Setidaknya, tiga hingga enam bulan ke depan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News