Inilah Kabar Baik bagi Penderita Gagal Ginjal dan Kanker

Inilah Kabar Baik bagi Penderita Gagal Ginjal dan Kanker
Adi Santoso, mengembangkan protein terapetik Erythropoietin (EPO) Generasi II. FOTO : HILMI SETIAWAN/JAWAPOS

 ”Kebetulan juga, masih ada kaitannya dengan riset saya ketika S-3 dan melakukan postdoctoral research di United States Department of Agriculture (USDA),” jelasnya.

Saat menempuh program doktoral di AS, Adi meneliti gen yang ada dalam lalat rumah. Nama gen tersebut adalah ornithine decarboxylase gene (ODC). Gen itu sudah dia daftarkan ke GenBank, sebuah website gudangnya gen-gen yang ditemukan dari seluruh penjuru dunia.

Menurut Adi, bila diteliti lebih lanjut, gen ODC itu bisa dikaitkan dengan upaya mengobati sel kanker. Sebab, di dalam sel kanker manusia, ternyata kandungan gen ODC tinggi. Ketika teknologi bisa menekan produksi gen ODC, secara teori bisa juga pertumbuhan sel kanker ditekan.

Pada awal penelitian, Adi menggunakan media produksi yang berupa tanaman barley (sejenis gandum). Dia menyuntikkan barley stripe mosaic virus (BSMV) ke tanaman barley. Melalui bantuan virus itu, Adi berhasil memproduksi protein EPO di tanaman tersebut.

Namun sayang, protein EPO yang dihasilkan tanaman barley tidak cocok bagi tubuh manusia. Dia sempat kecewa, tetapi tidak sampai patah semangat. Akhirnya, dia kembali melakukan riset dengan mengubah media produksi. ”Kali ini saya gunakan media yeast (ragi, Red) Pichia pastoris,” tuturnya.

Riset dengan media ragi itu dilakukan dalam rentang 2008 sampai 2011. Anak keenam di antara tujuh bersaudara tersebut mengembangkan lagi produksi protein EPO dengan menggunakan humanized Pichia pastoris. Tujuannya, protein EPO yang dihasilkan lebih cocok untuk dimasukkan ke tubuh manusia.

Namun sayang, Adi kesulitan untuk mendapatkan humanized Pichia pastoris. Dia mengatakan, satu-satunya tempat yang memproduksi zat itu berada di New Jersey, AS. ”Produksi humanized Pichia pastoris itu ternyata dimiliki oleh sebuah perusahaan farmasi di New Jersey. Sangat sulit mendapatkannya,” ungkapnya.

Adi terus memutar otak supaya mendapatkan media produksi yang bisa menghasilkan protein EPO yang cocok untuk dimasukkan ke tubuh manusia. Akhirnya, dia menemukan jawabannya. Yakni, sel mamalia yang bernama CHO-DG44 (Chinese hamster ovary) pada 2012. Sesuai dengan namanya, yang dia pakai itu berasal dari sel ovarium hamster Tiongkok.

HASIL penelitian Adi Santoso tentang terapeutik erythropoietin (EPO) II segera diproduksi masal. Temuan baru tersebut diharapkan bisa membantu mengurangi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News