Jadi Pemimpin Harus Berani Mengambil Risiko

Jadi Pemimpin Harus Berani Mengambil Risiko
Moeldoko. Foto: KSP

 

“Inilah tingkatan tertinggi seseorang jadi pemimpin,” kata Panglima TNI 2013-2015 itu.

Moeldoko menegaskan, seorang pemimpin harus memberikan kebajikan kepada bawahan. Sehingga akhirnya, bawahannya akan berkata, "Tidak ada hal yang bisa saya berikan kepada Anda, kecuali kesetiaan,” ungkap pria yang pernah menjabat Panglima Kodam Tanjungpura dan Siliwangi ini.

Dipaparkannya, kepemimpinan setidaknya memiliki aspek. Aspek pertama terkait hal-hal fisik, seperti visual aspect, audio aspect dan smell aspect, terkait hal-hal fisik yang akan mempengaruhi persepsi orang lain tentang kemampuan leadership seseorang.

“Meski di bagian permukaan, aspek ini tak boleh diabaikan. Kalau kita tak rapi, orang akan dengan mudah mengartikan siapa diri kita. Aspek fisik jadi ukuran awal orang lain menilai kita,” ungkap mantan Wakil Gubernur Lemhanas itu.

Selanjutnya, aspek intelektual, mencakup logical thinking, creative thinking, dan practical thinking.

“Aspek ini lebih dari sekadar masalah nilai IQ, karena terkait kemampuan seseorang dalam mengelola cara berpikir sehingga mampu memberi pengaruh efektif kepada orang lain,” kata periah gelar doktor Program Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia yang lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Berikutnya adalah aspek kemampuan sosial, meliputi social awareness, social relationship management, dan social problem solving skill. Kepala Staf Kepresidenan menekankan, aspek ini lebih dari sekadar kecerdasan emosial karena terkait kemampuan membangun jaringan sosial sebagai modal untuik melebarkan pengaruh.

Seorang pemimpin harus memberikan kebajikan kepada bawahan dan memegang tanggung jawabnya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News