Jago Wayan

Oleh: Dahlan Iskan

Jago Wayan
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Di Pangkalan Bun. Ia lagi mencari anak miskin yang mau mengubah nasib. Seperti 16 anak muda yang kini bisa hidup sejahtera di Riau. Syaratnya harus mau dan siap kerja keras. Ia akan menyediakan 2 hektare tanah untuk diubah menjadi kebun sawit.

Waktu jadi tentara ia amat disiplin. Waktu jadi petani ia sangat serius. "Waktu di tentara saya punya prinsip, komandan saya harus senang. Artinya pekerjaan saya harus beres melebihi yang dipikirkan komandan," katanya.

Wayan, yang sama sekali tidak punya darah Bali, selalu ingat masa kecilnya di desa. Di Grajakan. Tiap hari ia lihat adu jago.

Ia punya kesimpulan: jago (ayam jantan) yang memenangkan pertarungan adalah yang sering diadu. Sampai tidak punya bulu di kepala dan lehernya. Sampai kulit lehernya tebal. Saking seringnya dipatuk lawan.

Jago yang lebih tinggi dan besar pun bisa kalah dengan jago kecil yang sering diadu.

"Hidup itu kalau mau sukses juga harus sering menghadapi ujian," kata Wayan.

Banyak orang mencela hobi adu jago. Wayan justru belajar dari perkelahian itu. (*)


Berita Selanjutnya:
Pendidikan Kering

Namanya: Wayan Supadno. Dia berhenti dari tentara. Pangkatnya mayor. Uangnya sudah banyak. Ia merasa tidak enak: jadi tentara merangkap jadi pengusaha sukses.


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News