Jahat Enak

Oleh: Dahlan Iskan

Jahat Enak
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - MINGGU kemarin adalah hari bersejarah dalam hidup saya. Sejarah kecil: minum kopi terbanyak. Sampai lima jenis kopi. Sekali duduk. Dua jam.

Saya harus bisa memahami mengapa begitu banyak pembaca Disway yang gila kopi. Saya juga ingin melupakan minyak goreng, batu bara, cabe, dan PMK. Setidaknya dalam dua jam itu.

Maka saya cari Jo. Ia seumur anak saya. Sekolahnya juga di Amerika, electrical engineering. Lalu sekolah lagi: balap mobil. Di Kanada. Untuk bidang tekniknya.

Baca Juga:

"Jangan ngopi dengan saya. Dengan teman saya saja. Kelas saya masih di bawahnya," ujar Jo.

Maka saya diperkenalkan dengan teman seumurnya juga: Dukun Kopi. Sekolahnya di Melbourne, Australia. Jurusannya computer science.

Awalnya ia ke Australia karena terpaksa. Kakak perempuannya tidak kerasan di sana. Maka biar pun hampir naik kelas 2 SMA di St Louis Surabaya, Dukun Kopi mengulangi lagi kelas 1 di Australia.

Baca Juga:

Saya pun ke kafenya. Di Jalan Musi. The Little Prince.

Ternyata si Dukun Kopi mengajak temannya lagi. Yang lebih gila kopi. Sang teman, Arek Suroboyo. Kelahiran Krian. Bapaknya jualan buah di pasar desanya. Ia lulus D3 perkapalan ITS. Mereka seumur. Lalu masuk ITATS untuk S-1. Sambil bekerja.

Konon biji kopi khusus itu diselundupkan ke Tiongkok secara rahasia. Dimakan. Lalu, bijinya, diberakkan di Tiongkok. Saking ketatnya kontrol Panama.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News