Jeritan Pengrajin Tempe Berulang, Harga Kedelai Meroket Pascalebaran

Jeritan Pengrajin Tempe Berulang, Harga Kedelai Meroket Pascalebaran
Sejumlah pengrajin usaha tempe dan tahu kembali mengeluhkan kenaikan harga kedelai secara drastis tersebut. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, MAKASSAR - Harga kedelai meroket sejak beberapa waktu belakangan. Sejumlah pengrajin usaha tempe dan tahu kembali mengeluhkan kenaikan harga kedelai secara drastis tersebut.

"Setengah mati orang sekarang cari kedelai, mahal sekali. Harganya sampai Rp 11.300 per kilogram sekarang. Kenaikannya habis Lebaran," ungkap pengrajin tempe-tahu, Harun Wibisana, di pabriknya, Kelurahan Karang Anyer, Kecamatan Mamajang, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (1/6).

Harun menuturkan harga kedelai sebelum pandemi dilepas pemasok antara Rp 7.000-Rp7.500 per kilogram.

Namun, sejak merebaknya virus corona, harga kedelai terus mengalami kenaikan hingga saat ini antara Rp 2.000-Rp3.800 per kilogram.

Selain itu, pihaknyaa mulai curiga kenaikkan harga kedelai tidak dibarengi dengan pengendalian serta pengawasan pemerintah sejak awal 2021.

Dampaknya, stok bahan kedelai terus berkurang, disisi lain permintaan terus meningkat.

"Saya tidak tahu (penyebab harga naik), cuma dia bilang (pemasok) kepada saya, pesanan untuk stoknya kurang," bebernya.

Harun menyebutkan selama ini memenuhi pesanan dengan bahan baku impor, sebab untuk stok kedelai lokal di Indonesia jumlahnya sangat terbatas untuk memenuhi permintaan.

Sejumlah pengrajin usaha tempe dan tahu kembali mengeluhkan kenaikan harga kedelai secara drastis tersebut.