Kadek 'Jango' Pramartha, 10 Tahun Mempromosikan Budaya Bali lewat Majalah Kartun

Promosi dengan Cara Tinggalkan Majalah di Kursi Pesawat

Kadek 'Jango' Pramartha, 10 Tahun Mempromosikan Budaya Bali lewat Majalah Kartun
Kadek Pramartha menunjukkan majalah kartun Bogbog saat ditemui Jawa Pos di kantornya, sebuah ruko dua lantai di Jl Veteran, Denpasar, Selasa lalu (22/3). Foto: Gunawan Sutanto/Jawa Pos
Melalui T-shirt itu, selain bisnis, ada sisi idealisme yang ingin dicapai Jango. Melalui kartun, dia dan kawan-kawannya ingin mengajak orang Bali serta masyarakat dunia melihat globalisme di Bali. Dia lantas menunjukkan sebuah kartun bertulisan gloBALIsme.

Mantan president of Indonesian Cartoonist Association itu menyatakan, majalah Bogbog awalnya dibuat atas kefrustrasian Jango dan beberapa temannya karena usaha T-shirt-nya gulung tikar lantaran terus melambungnya harga sewa stan di Kuta.

Dari situ, Jango memikirkan bagaimana agar idealismenya tetap bisa diwujudkan hingga akhirnya terpikirlah untuk membuat majalah kartun. Dimulailah penerbitan Bogbog pada 1 April 2001. "Kami sengaja pilih pas April Mop. Karena itu namanya Bogbog," ucapnya.

Dalam bahasa Bali, bogbog berarti bohong. Menurut Jango, ada banyak filosofi dari kata bogbog. Salah satunya, dalam pandangan dia, selama ini banyak berita dan informasi bohong. Selain itu, nama bogbog sesuai dengan isi majalah. Yakni, hampir 99 persen berisi kartun dengan kisah fiktif.

Sejak awal penerbitan, segmen pasar yang dibidik majalah bulanan itu adalah turis asing. Tak heran, bahasa dalam Bogbog dibuat bilingual, yakni Inggris dan Indonesia. Awalnya, Bogbog dijalankan tiga kartunis. Selain Jango, ada Putu Adi Supardi dan Ceceriberu. Mulanya mereka bekerja tanpa memperoleh gaji. Baru setahun setelah berjalan mereka bisa menikmati hasilnya.

Kantor redaksinya pun awalnya menumpang di rumah Jango. Sekarang majalah tersebut sudah punya kantor mandiri di sebuah ruko dua lantai di Jalan Veteran, Denpasar. Jango mengakui, sebagian pendanaan majalah itu awalnya banyak disuplai sumbangan teman-temannya. Baik sesama kartunis maupun teman Jango di luar komunitas kartun. "Kan waktu itu belum dapat banyak iklan," ucapnya.

Pada awal penerbitan, beberapa orang meragukan majalah tersebut bisa eksis. Namun, toh akhirnya majalah berdimensi 25 x 20 itu bisa bertahan hampir 10 tahun. "Keyakinan saya bukan pada banyaknya modal untuk menjalankan majalah ini, tapi pada energi positif yang kami punya," jelasnya. "Perusahaan ini bukan padat modal, tapi padat kreativitas," sambung bapak tiga anak tersebut.

Tiga edisi perdana majalah itu diterbitkan secara gratis. Sebenarnya Jango dan teman-temannya masih ingin menggratiskan majalah tersebut. Namun, kenyataannya, ketika dibagikan secara gratis, majalah itu malah tidak bisa sampai ke target market-nya. Yakni, wisatawan mancanegara (wisman). Sesampai di tempat distribusi, majalah itu langsung habis diserbu tukang parkir dan pelayan hotel atau restoran tempat majalah tersebut disebar.

Sebagai kartunis, Kadek Pramartha ingin total berkiprah. Salah satu karyanya adalah Bogbog. Itu adalah nama majalah kartun yang dia dirikan sejak

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News