Kadek 'Jango' Pramartha, 10 Tahun Mempromosikan Budaya Bali lewat Majalah Kartun

Promosi dengan Cara Tinggalkan Majalah di Kursi Pesawat

Kadek 'Jango' Pramartha, 10 Tahun Mempromosikan Budaya Bali lewat Majalah Kartun
Kadek Pramartha menunjukkan majalah kartun Bogbog saat ditemui Jawa Pos di kantornya, sebuah ruko dua lantai di Jl Veteran, Denpasar, Selasa lalu (22/3). Foto: Gunawan Sutanto/Jawa Pos
Melihat kondisi itu, Jango mengaku senang sekaligus sedih. "Senangnya ya banyak yang tertarik. Tapi, masalahnya, majalah ini kan kami harapkan untuk mendukung pariwisata Bali. Otomatis harapannya yang membaca ya wisatawan," jelasnya. Untuk harga, majalah tersebut dulu dibanderol Rp 5.000. Kini harga terakhir Rp 8.000.

Untuk mempromosikan majalah itu, Jango punya strategi menarik. Yakni, dia sering meminta teman-temannya yang naik pesawat terbang untuk menaruh majalah tersebut di kursi penumpang.

"Saya minta kepada teman yang akan bepergian ke luar negeri atau daerah untuk meninggalkan majalah ini di kursi penumpang. Hasilnya ternyata efektif. Ada beberapa orang dari luar Bali yang menghubungi untuk berlangganan," jelasnya. Kini, majalah tersebut beroplah sekitar 10 ribu eksemplar. Awalnya, tiras Bogbog hanya seribu eksemplar.

Dalam perjalanannya, majalah itu mengalami pasang surut. Puncaknya, penurunan oplah terjadi pascabom Bali. Kala itu memang terjadi penurunan jumlah wisatawan besar-besaran di Pulau Dewata. Bukan hanya Bogbog, dalam catatan Jango, setidaknya ada 10 majalah pariwisata terbitan Bali yang gulung tikar. "Syukurlah kami tidak sampai gulung tikar. Saya yakin itu semua berkat energi positif kami," tegasnya.

Waktu itu, semangat yang diusung awak Bogbog hanyalah bagaimana membuat Bali tetap tersenyum dan bangkit.Pascatragedi kelam tersebut, Bogbog hanya absen dua edisi alias dua bulan tidak terbit. Majalah itu tetap terbit setelah di-support materi oleh beberapa orang yang peduli terhadap seni dan Bali. Kini eksistensi Bogbog pun tetap terjaga. Majalah tersebut telah tersebar ke beberapa daerah di luar Bali. Bahkan, dalam catatan yang ditunjukkan Jango, ada beberapa universitas di Australia, Belanda, serta AS yang menjadi pelanggan tetap Bogbog.

Bahkan melalui brand Bogbog, beberapa orang dan instansi di Bali memberikan kepercayaan kepada Jango. Selain menjalankan usaha penerbitan, Bogbog kini kerap di-hire sebagai event organizer acara tertentu. "Tapi, even yang kami kemas tetap melibatkan kartun," papar pria kelahiran 21 Desember 1965 tersebut.

Bahkan, Jango kini bisa mengembangkan bisnis T-shirt yang dulu gulung tikar karena tidak kuat menyewa stan. Dia mengaku saat ini belum berpikir untuk mengembangkan Bogbog dengan mengangkat budaya Indonesia secara umum. Sebab, menurut dia, untuk mengangkat budaya daerah lain, diperlukan pemahaman budaya tersebut. "Kalau budaya Bali kan saya memang sudah paham," tegas pria asli Denpasar itu.

Meski begitu, kadang Jango masih kerap berkonsultasi dengan tokoh adat sebelum mengeluarkan kartun berisi kritik sosial seputar budaya Bali. Kini, Bogbog telah beberapa kali menjadi official magazine festival seni dan konferensi internasional yang diselenggarakan di Bali. Bahkan, pada 2003, majalah itu meraih penghargaan MURI sebagai majalah kartun pertama di Indonesia yang berbahasa Inggris dan berlatar belakang budaya Bali. (c5/kum)

Sebagai kartunis, Kadek Pramartha ingin total berkiprah. Salah satu karyanya adalah Bogbog. Itu adalah nama majalah kartun yang dia dirikan sejak


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News