Karma Royce

Oleh: Dahlan Iskan

Karma Royce
Dahlan Iskan. Foto: disway.id

"Anak itu tidak mau memberi hadiah ulang tahun yang menyedihkan buat papanya. Ia pilih meninggal sehari kemudian," katanya.

Yang ketiga, ujar Royce, anak itu pandai: memilih meninggal di bulan suci Ramadan.

Seminggu kemudian, Royce kembali ke dokter langganannya. Benar. Ari-arinya sudah tidak bergerak. Air ketubannya juga sudah tidak ada. Berat badan sang istri juga sudah turun 2 kg.

Saatnya operasi pengambilan mayat bayi itu dilakukan. Berhasil. Sang ibu baik-baik saja.

Royce terus merenung. Mengapa semua itu terjadi. Saat perut sang istri dibuka, tidak ada kecurigaan apa pun yang menyebabkan si bayi mati. Tali pusarnya pun masih terhubung sempurna dengan si ari-ari.

"Ini benar-benar karma," kata Royce.

Ia pun ingat orang tuanya suka adu jago. "Harusnya tidak boleh bisnis berdarah-darah," katanya.

Ternyata, simpul Royce, kepintaran saja tidak bisa menyelamatkan nyawa. Padahal dokter itu kurang pintar apa.

Bapaknya tidak sampai memutus hubungan kekeluargaan. Termasuk tetap bersama-sama mengantar mayat sang bayi ke pemakaman.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News