Ke Pulau Sebatik Pasca Ketegangan Indonesia-Malaysia (3-Habis)

Sakit pun Warga Sebatik Memilih Menyeberang ke Tawau

Ke Pulau Sebatik Pasca Ketegangan Indonesia-Malaysia (3-Habis)
Penduduk berdarah Indonesia yang menempati Kampung Sungai Melayu Malaysia, terpaksa harus mengibarkan bendera Malaysia. Foto : Thomas Kukuh/Jawa Pos
Ketergantungan warga Pulau Sebatik pada Malaysia tidak hanya sebatas pada soal pemenuhan "perut" saja. Tapi warga di pulau perbatasan itu sangat mempercayai penanganan kesehatan di negara tetangga. Dengan pelayanan lebih baik dan harga yang terjangkau mereka lebih suka berobat di Malaysia. Itulah yang dilihat wartawan Jawa Pos THOMAS KUKUH yang pekan lalu berkeliling Pulau Sebatik.

==========================

SARANA dan prasarana kesehatan di Pulau Sebatik termasuk minim. Untuk melayani kesehatan warga pulau yang berpenduduk 30 ribu jiwa ini hanya tersedia tiga puskesmas dengan empat orang dokter.

Puskesmas Desa Sungai Nyamuk merupakan puskesmas terbesar. Berdiri di lahan seluas 70x80 meter dengan luas bangunan 12x24 meter. Ada dua dokter yang bertugas di sana. Satu dokter umum dan satu dokter gigi. Secara bangunan, puskesmas itu cukup bagus. Gedung utamanya berlantai dua untuk rawat inap pasien.  "Ini baru selesai dibangun pada 2008," ucap Kepala Puskesmas Desa Sungai Nyamuk drg Rohmad Slamet saat ditemui di rumahnya, Minggu (12/9).

Ketergantungan warga Pulau Sebatik pada Malaysia tidak hanya sebatas pada soal pemenuhan "perut" saja. Tapi warga di pulau perbatasan itu

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News