Kecewa Skala 9,5

Oleh: Dahlan Iskan

Kecewa Skala 9,5
Effendi Gazali. Foto: Dea Hardianingsih/JPNN.com

Saya mencatat banyak kekecewaan yang dialami Effendi Gazali dalam hidupnya.

Tahun lalu ia kecewa karena gugatannya ke Mahkamah Konstitusi ditolak. Ia ingin pencalonan presiden tidak dibatasi kepemilikan kursi di parlemen. Ia ingin siapa saja bisa diusung partai-apa-saja menjadi calon presiden.

Kekecewaannya mencapai 9,95. Mepet batas atas. Padahal ia serius banget memperjuangkan itu. Demi demokrasi.

Effendi juga pernah kecewa pada almamaternya sendiri: Universitas Indonesia. Yakni terkait dengan kualitas calon rektor pada saat itu. Ia sampai bergabung ke dalam gerakan #saveUI.

Tingkat kekecewaannya saat itu: 8. Angkanya tidak sampai 9. Ia tidak sekecewa terhadap jurnalisme dan Mahkamah Konstitusi.

Padahal gara-gara itu ia tidak bisa menjadi profesor di UI.

"Enggak jadi profesor kan tidak apa-apa. Dr Imam B. Prasojo juga belum diangkat menjadi guru besar. Padahal ia lebih layak dari banyak yang sudah jadi profesor," katanya.

Ada satu lagi kekecewaan Effendi Gazali. Semoga istrinya tidak membaca ini. Ia pernah kecewa ditinggal pacarnya. Nilai kekecewaannya –saat itu– mencapai 9.

Wartawan sungguhan justru bisa merasa malu menjadi wartawan, terutama saat melihat wartawan berebut amplop.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News