Keliling 17 Negara Menjadi Tukang Cerita

Keliling 17 Negara Menjadi Tukang Cerita
Jeeva Raghunath. Foto: FDII 2015 for Jawa Pos

 Trik Jeeva lainnya untuk menggaet hati audiens adalah memasukkan celetukan-celetukan dalam bahasa lokal. Di sebuah bagian dongeng Jack yang menceritakan si Jack disuruh sang bapak mencari ayam jago, Jeeva tiba-tiba nyeletuk,”Ya, ayam jago.”
Sebenarnya dia hanya mengulang ucapan si penerjemah. Namun, toh celetukan spontan tersebut langsung disambut tawa lepas para bocah yang menonton.  

Menurut Jeeva, trik seperti itu memang punya efek menyenangkan bagi para penonton. “Wow, itu bahasa kita. Mereka lalu merasa senang sekaligus makin bersemangat untuk mendengarkan dongeng,” ucapnya.

 Jeeva bercerita, seorang teman pendongengnya sangat serius menggunakan trik tersebut tiap kali akan tampil. Dia selalu meluangkan waktu untuk mempelajari bahasa lokal jauh-jauh hari.

Jeeva mengaku tak serajin itu. “Aku menirukan bahasa lokal yang aku dengar saja. Lalu, gunakan itu saat pertunjukan. Hahaha,” katanya.

Jeeva melihat dongeng di Indonesia sudah berkembang melebihi ekspektasi. Sudah banyak komunitas dan para pendongeng yang aktif memberikan edukasi mengenai dongeng.

 Baik ke orang tua, guru, maupun anak-anak yang menjadi target utama. Hasilnya bisa dilihat dari perhelatan FDII. Dari yang awalnya hanya membaca cerita kini sudah bisa disebut benar-benar mendongeng.

“Para pendongeng yang stand by di booth dongeng sudah semakin lihai. Ekspresi, suara, serta gerak tubuh mereka sudah jauh lebih menarik,” katanya. (*/c10/ttg)


LEWAT perantara suara, ekspresi, dan gerak tubuh, dongeng yang disampaikan Jeeva Raghunath selalu gampang dipahami anak-anak yang menjadi audiens.


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News