Keluarga Besar

Oleh Dahlan Iskan

Keluarga Besar
Dahlan Iskan bersama Panji Dwi Anggara. Foto: beerita.id

"Melihat prestasi Anda, saya yakin Anda akan bisa mencapai level direksi," kata saya. "Tetapi kalau badan terus naik begitu jantung Anda tidak kuat untuk jadi direksi," tambah saya.

Empat bulan kemudian saya 'kecopetan' Rp 50 juta.

Delapan tahun kemudian saya membaca berita: salah satu dari mereka itu diangkat menjadi Direktur PLN --lalu menjadi Pjs Dirut PLN.

Orangnya tidak ambisius. Waktu ditawari untuk diangkat jadi Dirut definitif ia tidak mau.

Itulah Djoko Abunaman, pensiun dari direksi belum lama ini.

Sejak saya memanggilnya ke meja bundar itu saya tidak pernah bertemu Panji lagi. Sampai meninggalnya itu.

Beberapa jam setelah Panji meninggal saya telepon ke nomor ponselnya. Yang menerima suara seorang perempuan. Saya pikir dia istrinya. Saya perkenalkan nama saya.

Saat itu juga suara itu hilang. Yang terdengat tinggal isak tangis yang panjang.

Ia meninggal bukan karena Covid, tetapi jenazahnya tidak bisa diambil dari rumah sakit --kalau tidak dimasukkan peti mati. Namanya: Panji Dwi Anggara.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News