Kementan Dorong Pengendalian OPT Hortikultura Ramah Lingkungan

Kementan Dorong Pengendalian OPT Hortikultura Ramah Lingkungan
Penggunaan tanaman refugia sebagai salah satu cara pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang ramah lingkungan.memiliki beberapa keuntungan, terutama bagi petani. Foto: Kementan

“Golongan polinator sekitar 15 persen, musuh alami sebesar 24 persen dan serangga lainnya berkisar 6 persen,” papar Suputa, Dosen Faperta UGM.

Beberapa permasalahan yang ada seperti pengendalian alami lebih mendominasi daripada pengendalian kimia.

Suputa menyebutkan, pengambilan keputusan oleh petani terkadang dilakukan tanpa memperhitungkan keberadaan dari musuh alami hama, evaluasi berkala terkadang tidak dilakukan, serta belum ada toko yang menjual parasitoid.

“Saya menjalankan produksi kumbang kripto dengan mendapatkan beberapa manfaat seperti memakan predator hama kutu putih pada tanaman serta menciptakan hasil tanaman pangan yang sehat,” ujar penggiat pertanian ramah lingkungan dan produsen kumbang kripto, Ahmad Sofyan.

Kepala BPTPH Jawa Tengah Herawati mengatakan, sudah banyak kegiatan yang dilakukan di lingkungannya terkait penggunaan agen pengendalian hayati.

“Antara lain penguatan kelembagaan perlindungan, gerakan pengendalian secara ramah lingkungan, fasilitasi pembuatan bahan pengendali ramah lingkungan, serta penanganan dampak perubahan lingkungan (DPI),” terangnya.

Penggunaan refugia memiliki beberapa keuntungan seperti pestisida berkurang drastis, banyak ditemukannya parasitoid, petani kini semakin pintar untuk membuat sendiri rumah (PGPR, PESNAB, STMA, POC), ekosistem lahan yang semakin baik, serta biaya produksi petani dapat semakin ditekan.

“Tanaman refugia dipilih karena diharapkan bisa menyehatkan para petani, tanaman, lahan dan konsumen yang ikut mengonsumsi tanaman ikut sehat serta bermanfaat untuk ke depannya,” ungkap Petani Hortikultura Milenial, Shofyan Adi.

Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan terus mengeduksi masyarakat dan petani melalui bimbingan teknis terkait tata kelola budidaya yang baik.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News