Keputusan Bahlil soal Elpiji 3 Kg Dianggap Bahlul

Pun penjualan bensin bersubsidi makin terarah. Mekanisme di stasiun pompa bensinnya sudah kian mapan.
Pupuk bersubsidi beres. Bensin subsidi juga beres. Kini meningkat ke elpiji bersubsidi –dengan cara yang sama sekali tidak belajar dari keberhasilan pupuk dan bensin.
"Heboh elpiji ini, sayangnya, tidak menyadarkan kita pada ide lama: kompor listrik," kata Dahlan.
Dia menyebutkan bahwa semua negara maju sistem dapurnya pakai kompor listrik. Kenapa kita belum mau mengarah ke sana.
"Aneh. Tiap rumah perlu elpiji. Tidak ada jaringan pipa elpiji ke rumah-rumah. Elpiji masih disalurkan pakai cara paling kuno: dikirim lewat angkutan mobil dan motor," tutur Dahlan.
Memang ada program membangun jaringan pipa gas di beberapa kota. Tetapi tidak ada artinya dibanding luasnya perumahan di negeri ini.
Di lain pihak, listrik sudah ada di rumah masing-masing. Bagi yang dayanya kecil tinggal memperbesarnya, sedangkan elpiji harus impor. Haus devisa.
Kemudian, listrik bisa diproduksi sendiri di dalam negeri. Batu bara melimpah. Murah.
Keputusan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia soal skema distribusi elpiji 3 kg dianggap bahlul. Tidak belajar dari masalah ini.
- Mendikdasmen: Presiden akan Berikan Smart Board, Pembelajaran Lebih Asyik
- Roy Suryo Ungkap Ironi Laporan Jokowi, Dilayangkan Saat Hari Keterbukaan Informasi
- Dasco Dinilai Tunjukan Gaya Kepemimpinan DPR yang Aspiratif
- Momen Prabowo Singgung Kapolri-Panglima TNI: Wah, Alamat Enggak Diganti Nih!
- Dokter Konsumen
- Gus Din Apresiasi Jokowi Membuat Laporan ke Polisi Soal Ijazah Palsu