Kern…

Kern…
Kern…

Yang melaporkannya J.K. van der Meulen, pegawai pemerintahan kolonial. Temuan itu berupa tiang batu bersurat setinggi 177 cm. Lebar bagian dasar 32 cm. Lebar puncaknya 19 cm.

Demi membaca laporan tersebut, sesuai bidangnya Bataviaasch Genootschap memberangkatkan Kern ke Pulau Bangka.

Menelitinya secara cermat, pada 1913 dia merilis bahwa tulisan yang terpahat di batu itu menggunakan aksara Pallawa, berbahasa Melayu Kuno. Dibuat pada 608 Saka atau 686 tarekh Masehi.

Menurut bacaannya, ada empat kata Sriwijaya dalam Prasasti Kota Kapur.

Sriwijaya, tulis Kern, nama seorang raja yang pernah berjaya pada abad 7.

Ya, Sriwijaya…menurut Kern, berdasarkan apa yang tertulis di prasasti adalah nama seorang raja. 

Perlu diketahui, saat itu belum pernah disebut-sebut hal ikhwal Kerajaan Sriwijaya.

Nah, kemudian hari seorang sarjana Perancis meneliti ulang kajian Kern. Namanya George Coedes.

Johan Hendrik Caspar Kern. Ilmuwan kelahiran Jawa ini “orang pertama” yang meneliti sejarah Sriwijaya. Para sarjana Barat menjulukinya mahaguru.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News