Kertas Mati

Oleh: Dahlan Iskan

Kertas Mati
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Dulu, lebar mesin kertas itu hanya sekitar 1,5 meter. Sekarang sudah ada mesin pembuat kertas dengan lebar 11 meter. Kertas yang lebar itu lantas dipotong-potong di mesin potong sesuai dengan permintaan pasar.

Baca Juga:

Saya sering bertemu kakak beradik itu. Dulu. Terutama di kegiatan kemasyarakatan.

Tentu saya tidak pernah melihat mereka di satu forum yang sama. Sebenarnya mereka sembilan bersaudara tetapi hanya dua itu yang saya kenal.

Saya pernah bertemu khusus dengan Tirto. Untuk minta tolong: please, bikinlah kertas koran. Saya ingin kertas koran diproduksi di dalam negeri.

Tirto minta maaf. Surya Kertas memang memproduksi berbagai macam kertas, tetapi tetap tidak mau membuat kertas koran.

"Repot, pak," ujarnya.

Repot yang dimaksud adalah urusan birokrasinya. Zaman itu kertas koran diatur pemerintah. Harganya pun dipatok.

Kalau pabrik mau menaikkan harga, kenaikan itu harus disetujui asosiasi surat kabar (SPS). Asosiasi wartawan (PWI) ikut bersuara: menentang. Pemerintah pun takut memutuskan. Padahal harga bahan baku naik terus.

Penolakan itu telah memaksa saya maju: mendirikan pabrik kertas. Mbak Tutut yang meresmikannya. Bersama Jenderal Hartono.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News