Ketegasan Lincoln, Pelajaran Demokrasi yang Mahal

Ketegasan Lincoln, Pelajaran Demokrasi yang Mahal
Dahlan Iskan

Kemenangan kembali Lincoln dan gelagat Confederacy yang akan kalah, membuat seseorang yang sangat benci Lincoln berbuat nekat. Tepat sebulan setelah Lincoln dilantik untuk masa jabatan kedua, orang itu, John Wilkes Booth, menembaknya dari jarak dekat di bagian belakang kepala Lincoln. Tewas.

Malam itu, Lincoln dan Wakil Presiden Johnson diagendakan nonton bersama di sebuah teater di Washington. Booth tahu agenda itu. Dia pun ikut nonton dengan tujuan membunuh dua orang tersebut. Dia agak kecewa karena di detik terakhir, Wakil Presiden batal ikut nonton karena harus pergi ke rumah putranya.

Saat pengawal bersenjata ingin minum kopi dengan cara meninggalkan balkon khusus tempat presiden menonton, Booth menyelinap. Dor! Lincoln dilarikan ke rumah sakit, tapi tidak tertolong.

Booth melarikan diri. Dia sembunyi di daerah pertanian di Virginia. Ketika 14 hari kemudian diringkus dia melawan. Lalu ditembak di daerah pertanian itu. Mati.

Lincoln sempat tahu bahwa Confederasi sudah menyerah total tanggal 6 April 1865 hanya seminggu sebelum penempakan itu terjadi. Rupanya Booth sangat terpukul oleh penyerahan diri panglima Confederasi itu.

Ahli sejarah sepakat bahwa Lincoln adalah satu dari tiga presiden terhebat yang dimiliki Amerika Serikat. Dia tegas dan menang. Bukan tegas tapi kalah. Atau menang tapi tidak tegas.

Dia tercatat sebagai presiden yang mengatasi tiga krisis sekaligus: krisis moral (soal perbudakan), krisis konstitusi (soal pemisahan diri) dan krisis politik (melakukan manuver politik untuk berkelit dari kompromi).

Lincoln sebenarnya anak desa yang tidak memiliki pendidikan formal. Dia lahir di pedalaman Kentucky, lalu pindah ke pedalaman Illinoi. Di sini Lincoln muda jadi tukang belah kayu untuk membuat bantalan rel kereta api. Kemudian menjadi pengacara. Lalu menjadi politikus lokal. Setelah menjadi politikus nasional, akhirnya dia mencalonkan diri sebagai presiden.

MENJADI Amerika yang hebat seperti sekarang ternyata juga tidak mudah. Bahkan ketika negara itu sudah berumur 90 tahun (tahun ini negara kita berumur

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News