Ketika Kegagalan Bertopeng Kejujuran

Ketika Kegagalan Bertopeng Kejujuran
Ketika Kegagalan Bertopeng Kejujuran
Dalam berbagai perdebatan, sering muncul kesan kuat kalau kita menghendaki pendidikan bermutu maka UN harus tetap ada. Seolah-olah, tanpa UN tak mungkin kita mendapatkan pendidikan yang bermutu. Lebih lanjut pendapat tersebut mengatakan bahwa apabila kelulusan hanya ditetapkan oleh guru seperti yang dikehendaki UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka semua peserta didik akan lulus. Jika semua peserta didik lulus, maka hal itu menunjukan bahwa pendidikan tersebut tidak bermutu.

Pandangan ini sangat mengganggu dan tidak benar.  Karena pandangan ini hanya mewakili pandangan para ahli tes, reduktif serta bertentangan dengan dasar filosofi dan teori pendidikan. Pandangan itu juga telah mengkerdilkan arti pendidikan dengan tes dan kontraproduktif terhadap usaha peningkatan mutu pendidikan.

Kini  yang terjadi, UN menjadi momok namun juga menjadi prestise. Sekolah, guru dan  bahkan Kepala daerah seakan berlomba untuk meraih angka tertinggi UN, dengan berbagai cara mulalui bimbel, pelajaran tambahan, sampai pada tryout-tryout. Di sini siswa dijejali dengan soal-soal, praktis sepanjang satu semester akhir menjelang UN. Sehingga yang terjadi kemudian,  teach what you test (ajarkan apa yang akan anda ujikan) bukan prinsip-prinsip ujian sekolah  yang seharusnya test what you teach!  (ujilah apa yang sudah anda ajarkan). (kp/aj/jpnn)

UJIAN Nasional yang dari awal sudah kontroversial, kini menjadi lebih Kontroversial lagi. Tingkat kelulusan siswa yang menurun hingga 35 persen,


Redaktur & Reporter : Auri Jaya

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News