Ketika Rakaat Pertama, Kapal Dihantam Ombak Besar

Ketika Rakaat Pertama, Kapal Dihantam Ombak Besar
Para jamaah KRI Banjarmasin menjalankan salat Magrib ketika gelombang besar menghantam kapal TNI-AL itu saat melintasi Laut Arab. Foto: Ilham Wancoko/Jawa Pos

’’Memang, sulit sekali salat dalam kondisi ombak tinggi seperti ini,’’ ujar Perwira Rohani Mayor Latief setelah salat.

Tidak hanya di dek, di ruang makan, suasana juga kacau balau. Makanan dan minuman berceceran di meja serta lantai karena tumpah. Orang-orang harus superhati-hati untuk mengambil nasi dan lauk-pauk. Untuk menyuapkan nasi ke mulut saja, mesti melihat situasi. Sebab, salah-salah, bukannya masuk mulut, nasi di sendok bisa terbang karena tiba-tiba kapal terguncang.

’’Memang, harus sekali-sekali seperti ini. Ini baru pelaut,’’ ujar Kapten Dandung, salah seorang pengajar Akademi Angkatan Laut (AAL), lantas tersenyum.

Dalam pelayaran selama hampir tiga bulan ini, KRI Banjarmasin mesti melewati Ramadan di tengah laut. Karena itu, tentu saja para anak buah kapal (ABK) maupun seluruh penumpang mau tidak mau harus melewatkan momen berpuasa bersama keluarga di rumah. Yang mereka hadapi sehari-hari hanya suasana di laut luas yang itu-itu saja.

Tak jarang para ABK teringat suasana berpuasa di rumah bersama anak dan istri. Misalnya yang dirasakan Kepala Urusan Dukungan Kesehatan dan Latihan Direktorat Kesehatan AAL Kapten Laut (K) Helmy Fahada. Setiap berbuka puasa, perwira 33 tahun itu teringat sang istri, Karina Prisdiani, 26, dan anak mereka, Adzkia Thafana Rasyada yang baru berusia delapan bulan.

”Saat berangkat, anak saya baru berusia lima bulan. Masih bayi. Ah, rasanya kangen,” tutur Helmy.

Bila tidak ikut pelayaran KRI Banjarmasin, seharusnya tahun ini merupakan kali pertama Helmy bisa berpuasa bersama istri dan anaknya. Namun, karena tugas negara, dia harus rela meninggalkan keluarga di rumah. ”Saya sudah belikan oleh-oleh spesial untuk istri dan anak saya. Mudah-mudahan mereka senang,” ujarnya.

Untuk obat kangen kepada sang buah hati, Helmy membawa baju anaknya. Dengan begitu, ketika rasa kangen itu tiba-tiba datang, dia akan mengambil baju tersebut untuk dipandangi. "Pakaian anak saya bawa, buat dicium-cium kalau kangen. Biar saya ingat bau anak saya,” tutur dia dengan mata berkaca-kaca.

KRI Banjarmasin kini dalam perjalanan pulang ke tanah air, usai misi mendukung Paviliun Indonesia di World Expo Milan (WEM) 2015 di Italia. 

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News