Kamis, 23 Mei 2019 – 18:10 WIB

Khawatir Dapat Gelar "Kota Kondom"

Sabtu, 24 April 2010 – 15:15 WIB
Khawatir Dapat Gelar

PONTIANAK - Rencana Bupati Landak, Adrianus Asia Sidot, untuk mendirikan pabrik pengolah lateks (getah karet) di daerahnya, mendapat reaksi dari Anggota DPRD Kalimantan Barat, Suprianto. Reaksi muncul karena pabrik yang akan didirikan dalam waktu dekat itu nantinya akan memproduksi kondom, selain sarung tangan. Alasan lain dari pengkritik, pabrik ini bukan seperti pabrik karet biasa melainkan pabrik yang menggunakan mesin berteknologi tinggi (teknologi radiasi).

Dengan alasan itu, anggota DPRD Kalimantan Barat, Suprianto meminta Pemerintah Kabupaten Landak mengkaji ulang rencana pendirian pabrik kondom di daerah tersebut. Pemerintah setempat diharapkan tidak hanya melihat aspek keuntungan ekonomi dari pendirian tersebut tetapi mengabaikan aspek sosial dan kemasyarakatan.

“Soalnya, pabrik kondom itu dapat berkonotasi negatif sehingga kurang baik bagi citra daerah. Dengan adanya pabrik kondom, nanti orang berasumsi seolah-olah daerah Landak melegalkan praktik prostitusi atau menjadi tempat maksiat walaupun sebenarnya tidak,” ujar Suprianto.

Saat ditanya apakah dengan demikian dia minta Pemkab Landak membatalkan rencana ini, Suprianto menjawab tidak. Yang penting, lanjutnya, Pemkab harus terlebih dahulu menjalin komunikasi atau membicarakan hal ini dengan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, mahasiswa dan elemen-elemen yang ada di Landak. Ditegaskan, dirinya tidak menolak investasi.

"Tetapi sebaiknya tanya dulu, apakah masyarakat setuju atau tidak. Kalau masyarakat setuju, silakan dijalankan. Kita hanya meminta pemerintah mempertimbangkan dampak sosial yang mungkin muncul,” katanya. Suprianto mempertanyakan mengapa harus kondom? Sebab, masih banyak jenis produk lain yang dapat diolah dari karet misalnya ban sepeda motor, mobil atau sarung tangan.

Sebelumnya dijelaskan Wakil Ketua Badan Pengelolaan Kawasan Ekonomi Terpadu, Alamsyah bahwa pabrik pengolah lateks ini akan sangat menguntungkan karena dapat memperpendek rantai distribusi sehingga biaya produksi petani bisa ditekan. Pembelian pihak pabrik dapat menggunakan sistem "jemput bola" langsung ke kebun. Selain itu, daerah juga lebih diuntungkan dari sisi nilai tambah produk karena yang dihasilkan bukan lagi bahan mentah melainkan barang jadi seperti sarung tangan dan alat kesehatan lainnya

Bupati Landak, Adrianus Asia Sidot pernah mengatakan, Pabrik ini bukan seperti pabrik karet biasa melainkan pabrik yang menggunakan mesin berteknologi tinggi (teknologi radiasi). Mesin yang disiapkan oleh Badan Tenaga Atom Nasional ini dapat langsung mengolah lateks menjadi barang jadi. Sentra produksi bahan baku akan diarahkan di Kecamatan Mandor dan memerlukan lahan sekitar 400 hektar. (rnl/sam/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar