Rabu, 19 September 2018 – 15:32 WIB

Kisah 10 Guru asal Indonesia Berlatih jadi Astronot

Selasa, 03 Juli 2018 – 00:30 WIB
Kisah 10 Guru asal Indonesia Berlatih jadi Astronot - JPNN.COM

jpnn.com - Jasa Wernher von Braun dalam sejarah luar angkasa Amerika Serikat (AS) memang tak lekang waktu. Di Huntsville, Alabama-lah, mahakaryanya diabadikan. Di kota itu pula sepuluh guru Indonesia berkesempatan napak tilas dan dilatih seputar dunia keastronotan.

Berikut liputan wartawan Jawa Pos SUSILO yang baru pulang mendampingi para guru tersebut selama di Alabama.

--

UNTUK menjangkau Huntsville, dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dari Bandara Internasional Chicago. Kira-kira sama dengan dari Juanda ke pusat kota Surabaya. Luas kotanya sedikit lebih besar daripada Surabaya, yakni 556 kilometer persegi. Terik mentarinya pun lebih menyengat. Bahkan mencapai 40 derajat Celsius jika tepat di ubun-ubun.

Seluruh koleksi mahakarya insinyur roket yang populer pada abad ke-20 asal Jerman tersebut tersimpan rapi di United State Space and Rocket Center (USSRC) alias Pusat Angkasa Luar dan Ruang Angkasa AS. Jumlahnya lebih dari 1.500 item. Nilainya mencapai puluhan juta dolar AS. Kompleks USSRC berdiri di atas lahan militer AS dan National Aeronautics and Space Administration (NASA) yang telah dihibahkan.

Itu berkat Von Braun. Kala itu, sebagai direktur pertama Marshall Space Flight Center alias Pusat Penelitian Peroketan dan Pesawat Ruang Angkasa NASA, Von Braun menginisiatori pembangunan museum. Tujuannya, pusat dokumentasi sejarah eksplorasi ruang angkasa AS.

Di sana tersimpan semua kiprah Von Braun. Mulai misi peluncuran roket pertama yang menembus luar angkasa atau yang dikenal dengan roket V-2. Sampai misi fenomenal Saturn V yang membawa manusia pergi ke bulan, yakni Apollo pada 1969. Termasuk coretan Von Braun di secarik kertas lusuh yang berisi tentang mimpinya ke luar angkasa pada usia 12 tahun.

Sejak dibuka pada 1970 untuk objek wisata umum warga AS, USSRC mulai merambah ke dunia pendidikan pada 2004 melalui program Space Camp. Mereka merangkul guru untuk menjangkau jutaan murid di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hingga kini, sudah 2.776 guru dari 54 negara bagian AS dan 62 negara di belahan dunia yang telah mengikuti program tersebut.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar