Kisah Pengungsi Rohingya Menyesal Kabur dari Indonesia demi Australia

Kisah Pengungsi Rohingya Menyesal Kabur dari Indonesia demi Australia
Abdul Sattar, seorang pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Indonesia, kini mendekam dalam detensi imigrasi di Australia. (ABC News: Nibir Khan)

Sudah dua minggu hari terakhir, di tengah pembatasan COVID-19, sejumlah aktivis berkumpul di Kangaroo Point Hotel yang dijadikan sebagai tahanan imigrasi untuk 120 pencari suaka.

Mereka menuntut agar pemerintah tidak memindahkan 120 pencari suaka ini ke pusat penahanan imigrasi berkeamanan tinggi di bagian lain Kota Brisbane.

"Respon masyarakat Brisbane sangat menggembirakan dan sejalan berkembangnya gerakan ini, tentu akan lahir perubahan institusional," kata seorang aktivis, Zoe Hulme-Peake kepada ABC.

Ia menjelaskan tujuan aksi mereka adalah menunjukkan dukungan dan solidaritas terhadap mereka yang berada di dalam detensi.

Zoe menuding pemerintah berusaha menutupi apa yang dialami para pengungsi di Brisbane.

Sementara itu juru bicara Islamic Council of Queensland, Ali Kadri, secara terpisah menyatakan para tahanan imigrasi ini telah "dianiaya secara mental".

"Hal ini bertentangan dengan kemanusiaan, bertentangan dengan nilai-nilai Australia," katanya.

Terkait masa depan para pengungsi, juru bicara Kementerian Dalam Negeri mengatakan tak seorang pun yang proses visanya di negara ketiga akan ditempatkan di Australia secara permanen.

Begitu tiba di Indonesia, Abdul langsung ditahan. Selama sembilan bulan. Pengungsi Rohingya itu baru menginjak usia 15

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News