Kisah Penyandang Disabilitas, Melukis Asa di Selembar Mori Putih

Kisah Penyandang Disabilitas, Melukis Asa di Selembar Mori Putih
Pramujito, penyandang tunagrahita melukis untuk batik. Foto : Fathan Sinaga/JPNN

jpnn.com, YOGYAKARTA - Keterbatasan fisik tidak meruntuhkan semangat penyandang disabilitas untuk melanjutkan hidup dan berkreasi mengasah bakat.

Itulah yang terlihat pada Pramujito, pemuda 18 tahun, seoran tunagrahita. Tangan Pramujito meliuk-liuk di atas kain mori berwarna putih.

Dia berkreasi dengan peralatan batik tulis sederhana seperti wajan kecil, kompor kecil, lilin batik kecil. Bermodal alat yang kecil itu. Pemuda berbaju biru itu bak maestro. Tanpa beban dia melampiaskan imajinasi seninya lewat canting dan kuas untuk membatik.

Baginya membuat kreasi di kain batik sangat menyenangkan. Dia merasa lebih lepas dan leluasa mengembangkan diri. Merasa bisa bertanggung jawab. Dengan kata lain, Jito -sapaan Pramujito- bisa mandiri.

"Batik itu bisa melatih kita. Saya ini suka batik, karena membatik itu enak," kata Jito saat ditemui, Kamis (14/11).

Jito menunjukkan keuletannya memainkan canting saat serah terima bantuan Rp 1,1 miliar dari Alfamart ke Yayasan Sayap Ibu di Pondok III YSI di Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Banyak orang terpukau melihat Jito dalam acara itu.

Meski diperhatikan banyak mata, Jito hanya fokus melukis. Usai mencanting, Jito melanjutkan kreasi dengan kuas. Bagian ini, dahi Jito tak tampak mengernyit seperti mencanting.

Tahap selanjutnya itu adalah membuat pola. Jito membuat pola tegas persegi. Tapi tak beraturan. Tak ada lengkungan sama sekali.

Yayasan Sayap Ibu membantu para penyandang disabilitas untuk belajar mandiri dengan memasarkan hasil karya seni mereka di akun Instagram.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News