Kisah Petambak Garam, tak Menyangka Keuntungan Berlimpah-limpah

Kisah Petambak Garam, tak Menyangka Keuntungan Berlimpah-limpah
Muhtar (kiri) adalah salah satu petambak yang merasakan manisnya harga garam. Foto: SAKINAH/FAJAR/JPNN

jpnn.com - Muhtar menangguk berkah dari meroketnya harga garam. Dia tak tiada hentinya mengucap syukur karena mahalnya harga garam bersamaan dengan panen yang melimpah.

Sakinah Fitrianti, Pangkep

Muhtar adalah salah satu petambak yang merasakan “manisnya” harga garam. Warga yang beralamat di Kampung Bonto Nompo, Kelurahan Bori Masunggu, Kecamatan Labakkang, Pangkep, Sulsel, ini mengisahkan, dahulu, harga satu karung garam (sak) hanya Rp20 ribu. Sekarang ini melonjak tinggi mencapai Rp150 ribu hingga Rp175 ribu.

Harganya sangat tinggi. "Kita tidak pernah menyangka bisa dapat keuntungan yang melimpah. Sebab dulunya mencari pembeli garam saja susah. Kita sudah sangat bersyukur kalau ada yang beli garam satu karung itu Rp40 ribu. Itu sudah mahal sekali,” ujarnya.

“Nah, sekarang ini malah pembeli harus antre karena banyak sekali yang mau beli garam. Sampai orang dari Jawa selalu datang ke kampung kami," bebernya.

Selain itu, menjadi petambak garam juga baginya adalah suatu mukjizat.

Karena bukan cuman tangan manusia saja yang kerja. Tetapi kondisi alam sangat berperan. Karena, menurutnya, mengelola garam itu, yang paling penting adalah kondisi cuaca.

"Saya sebut ini mukjizat karena usaha ini kita tidak bisa perkirakan. Cuaca menjadi sangat penting, karena biarpun ada sepuluh pekerja yang siap garap garam. Tetapi, kalau tiba-tiba hujan, maka sama saja gagal panen. Olehnya itu, memang menjadi petambak garam harus banyak-banyak bersabar dan bersyukur. Supaya hasilnya lebih berkah lagi dan lebih banyak," katanya.

Muhtar menangguk berkah dari meroketnya harga garam. Dia tak tiada hentinya mengucap syukur karena mahalnya harga garam bersamaan dengan panen yang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News