Kisah Petinju Filipina Peraih Medali Perak Olimpiade Tokyo, Ternyata Dulunya Seorang Pemulung

Kisah Petinju Filipina Peraih Medali Perak Olimpiade Tokyo, Ternyata Dulunya Seorang Pemulung
Petinju Filipina Carlo Paalam saat berlaga di final Olimpiade Tokyo 2020. Foto: (REUTERS/Leah Millis)

jpnn.com, TOKYO - Atlet Filipina Carlo Paalam harus puas membawa pulang medali perak dari cabang olahraga tinju kelas terbang (48-52 kilogram) Olimpiade Tokyo usai kalah dari wakil Inggris Raya Galal Yafai dengan skor 1-4 pada Sabtu (7/8).

Walau hanya membawa pulang perak, torehan ini cukup untuk membuat Filipina finis di peringkat 50 dalam tabel perolehan medali akhir Olimpiade Tokyo 2020 dengan rincian satu medali emas, dua perak dan satu perunggu.

Filipina memiliki peringkat lebih baik dibandingkan wakil negara Asia Tenggara lain seperti Indonesia, Thailand, hingga Malaysia.

Keberhasilan Paalam meraih medali Olimpiade ternyata menyimpan cerita pilu di dalamnya. Pria kelahiran 16 Juli 1988 ini ternyata pernah menjalani kehidupan sebagai seorang pemulung sebelum akhirnya terjun ke dunia tinju.

Ikut sang ayah sejak berusia enam tahun, ia harus tinggal bersama ayahnya di kota Cagayan de Oro dan kemudian menjadi pemulung di daerah itu dengan mencari botol-botol bekas untuk dijual kepada pengepul.

Hal tersebut dilakukan olehnya untuk menyambung hidup. Paalam akhirnya bergelut dengan dunia tinju saat masih berusia sembilan tahun. Saat itu, Paalam ditawari tetangganya untuk bertarung memperebutkan sebotol soda.

Tetangganya yang melihat potensi dalam diri Paalam saat itu mendaftarkannya ke dalam sebuah turnamen yang ada di kampungnya bertajuk Boxing in the Park

"Perjalanan saya dimulai di Boxing in the Park setiap Minggu dan ada hadiah 120 peso (sekitar Rp 34 ribu). Angka itu lebih besar bagi saya daripada saya berjam-jam mencari botol dan plastik bekas,” ungkap Paalam.

Dibalik kesuksesan Carlo Paalam meraih medali perak Olimpiade Tokyo 2020, ternyata ia pernah mengalami kehidupan yang sulit dengan menjadi pemulung.