Kisah Tri Lestari, Bunda PAUD di Perbatasan Ukir Prestasi

Kisah Tri Lestari, Bunda PAUD di Perbatasan Ukir Prestasi
Tri Lestari Rakhmawati, guru PAUD berprestasi yang mengajarkan anak-anak tentang sains. Foto: Mesya/JPNN.com

Tri juga kaget ketika kali pertama melihat sungai dan laut di Kaltara yang warnanya cokelat. Setahu dia, air sungai dan laut warnanya bening.

"Saya kaget kok air sungai dan laut di sini warnanya cokelat. Apalagi kalau musim hujan tapi warga Tana Tidung terpaksa menggunakannya untuk cuci, mandi dan masak karena air galonnya kan mahal," ujar Tri saat ditemui di Kota Tarakan terkait Hari Guru Nasional, belum lama ini.

Ada terlintas di pikiran Tri, untuk memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar tentang pentingnya air bersih. Keinginan Tri ini terbuka saat dia diminta jadi guru PAUD Nurul Jadid.

Masuknya Tri di PAUD Nurul Jadid juga sangat kebetulan. 2013, dia tengah mencari PAUD untuk anaknya. Kebetulan ada PAUD yang baru dibentuk dan guru-gurunya direkrut sukarela.

Merasa terpanggil, Tri pun bergabung dengan lima guru lainnya. Dua tahun lamanya mereka mengajar sukarela. Bagi Tri, itu tidak jadi masalah.

Selain mengajar anak-anak lain, Tri bisa menjaga buah hatinya yang juga siswa PAUD. Walaupun sarana prasarana terbatas, Tri dan kawan-kawannya tidak patah semangat. Anak-anak PAUD Nurul Jadid berkembang dan kualitasnya menonjol. Jumlah muridnya pun meningkat pesat dalam dua tahun.

Pada 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan dana BOP (bantuan operasional pendidikan) untuk PAUD Nurul Jadid.

"2015 adalah kali pertama kami digaji. Kami mendapatkan insentif Rp 1 juta per bulan," ucapnya.

Tri Lestari, bunda PAUD, tidak pernah menyangka begitu sulitnya kehidupan di wilayah perbatasan di Kabupaten Tana Tidung.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News