KLHK Terus Berupaya Selamatkan Orangutan

KLHK Terus Berupaya Selamatkan Orangutan
Ilustrasi. Foto: KLHK

jpnn.com, JAKARTA - Beberapa waktu lalu, publik sempat heboh dengan video satwa Orangutan yang sedang melawan salah satu alat berat (excavator) di kawasan hutan gambut. Ternyata, video tersebut merupakan rekaman lawas yang berasal dari kegiatan penyelamatan (rescue) Orangutan oleh lembaga International Animal Rescue (IAR) pada tahun 2013.

"Saat itu kegiatan rescue dilakukan terhadap tujuh individu Orangutan, di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Arthu Energi Resources, Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, akibat adanya kebakaran di kawasan konsesi kebun kelapa sawit tersebut," kata Indra Exploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Indra menerangkan, KLHK berupaya keras untuk mengatasi setiap permasalahan konflik satwa liar baik di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. "Dalam kurun waktu 2012 – 2017, KLHK telah menyelamatkan lebih dari 250 Orangutan Kalimantan ke pusat penyelamatan Orangutan, maupun dipindahkan (translokasi) ke habitat yang lebih aman. Hingga Desember 2017, jumlah Orangutan yang sudah dilepasliarkan, maupun translokasi sebanyak 726 individu, sementara yang ada di pusat rehabilitasi sebanyak 1.059 individu," ujarnya.

Berdasarkan data Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Orangutan tahun 2016, menunjukkan populasi orangutan kalimantan hampir 80% tersebar di luar kawasan konservasi. Sebanyak 57.350 individu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) diperkirakan hidup pada habitat seluas 16.013.600 hektar, yang tersebar di 42 kantong populasi. Proyeksi viabilitas orangutan menunjukkan hanya 59-38% Metapopulasi diprediksi akan lestari (viable) dalam 100-500 tahun ke depan

Sebagaimana diketahui, video viral dimaksud disebarkan oleh salah satu media asing yaitu BBC, dengan link (https://www.bbc.co.uk/programmes/b0b2n9v0), kemudian BBC Indonesia merilis iklan (teaser) film tersebut bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, pada tanggal 5 Juni 2018.

Dalam video tersebut, tampak beberapa petugas IAR dari sedang mencoba mengevakuasi Orangutan. Sementara, lokasi yang terlihat di dalam video, merupakan lokasi perkebunan yang berada di lahan gambut. Terkait hal tersebut, KLHK telah menerbitkan Peta Indikasi Pembatasan Penerbitan Izin Baru (PIPPIB) yang moratorium di hutan primer dan areal bergambut.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Wiratno, menyampaikan, bahwa berdasarkan hasil overlay peta sebaran populasi Orangutan dengan peta perusahaan, hampir semua wilayah habitat orangutan terokupasi dengan kebutuhan ruang untuk pembangunan ekonomi. "Jumlah kebutuhan ruang habitat Orangutan hanya sedikit, yaitu hanya 2,57% (dari luasan kebun sawit), dan 24,18% (dari luasan bukan kebun sawit), sehingga perlu ada kewajiban dunia usaha untuk mempertimbangkan habitat Orangutan, sebagai salah satu parameter keberhasilan pengembangan usaha, yang berbasis pembangunan berkelanjutan," ujarnya.

Selain penyelamatan ekosistem gambut sebagai kawasan lindung, saat ini KLHK bersama-sama berbagai lembaga, pemerhati Orangutan, akademisi dan pemerintah daerah, juga berupaya untuk mensinergikan kepentingan konservasi dengan kepentingan pembangunan ekonomi. Hal ini sejalan dan tertuang dalam Strategi Rencana Aksi Konservasi Orangutan (SRAK) 2018 - 2028, yang segera disahkan sebagai acuan pembangunan regional di wilayah metapopulasi Orangutan.

Hampir semua wilayah habitat orangutan terokupasi dengan kebutuhan ruang untuk pembangunan ekonomi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News