Selasa, 11 Desember 2018 – 16:02 WIB

Koko Mualaf, Menangis Peluk Ayahnya yang Seorang Pendeta

Jumat, 25 Mei 2018 – 00:30 WIB
Koko Mualaf, Menangis Peluk Ayahnya yang Seorang Pendeta - JPNN.COM

jpnn.com - Shantiko Hatmojo (33), putra seorang pendeta, telah mualaf, menjadi seorang muslim sejak lima tahun lalu.

TAMAMU RONY, Sampit

USAI melaksanakan salat Fardhu Zuhur pada Rabu (16/5) siang, Shantiko Hatmojo (33) menengadahkan tangannya ke atas. Di sampingnya, sang istri menemani jadi makmum. Kipas angin yang berada di atas mereka memendarkan suara doa yang keluar secara khusyuk dari mulutnya.

Siapa menyangka, pria kelahiran 2 Juni 1985 yang kerap disapa Koko Pentet itu dulunya adalah anak seorang pendeta sekaligus pemimpin salah satu gereja di Antang Kalang, Kabupaten Kotim, Kalteng. Kata Koko, keyakinan untuk mengenal Tuhan tak bisa dipaksakan. Dia akhirnya memilih Islam.

Hal itu mengalir dalam hati. Yang kemudian jadi sebuah prinsip untuk memeluk agama tertentu. Walau banyak rintangan, apa pun dihadapi untuk mempertahankan keyakinan itu.

”Ibarat orang jatuh cinta. Tak dapat dicegah. Sebab, hal sia-sia di dunia itu menasihati orang yang sedang kasmaran. Sama seperti rasa cinta saya dengan Islam. Siapa pun tak dapat mengintervensi,” ungkapnya ketika ditemui di kediamannya, Jalan Tidar Raya 3, Gang Rambutan, Sampit.

Napas keislaman Koko sebetulnya sudah terpupuk sejak SD kelas 5. Saat itu, mata pelajaran agama yang ia sukai justru agama Islam. Awalnya dia suka mendengarkan cara gurunya menyampaikan dan menjelaskan pelajaran agama tersebut dengan jenaka.

Dari situlah Koko kecil mulai sering mengikuti pelajaran Agama Islam hingga ia lulus. Ketika SMP dan SMA, acara pengajian dan ceramah tak pernah absen didatangi. Hingga sampailah pada pertengahan 2013, ia mendapatkan hidayah.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar