Lomba Pengeras

Lomba Pengeras
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - TEMPAT saya "bersembunyi" selama masa kampanye serasa dikelilingi masjid. Serasa dekat semua. Berkat pengeras suara yang seperti lomba besar-besaran watt.

Sesekali terdengar pengumuman dari pengeras suara itu: inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Itu pembukaannya. Pertanda ada orang meninggal dunia.

Sambil angkat batu, saya pun tahu siapa yang meninggal: seorang wanita di desa seberang sawah. Itu juga pertanda teman kerja saya tidak bisa datang. Harus melayat.

Begitulah etika di desa. Masih dijunjung tinggi. Kian ke kota kian rendah penegakan etikanya. Apalagi sampai di ibu kota.

Saya masih berharap rekan kerja itu masih bisa datang setengah hari paruh kedua. Setelah selesai melayat.

Baca Juga:

Saya belum bisa melakukan apa yang pandai ia lakukan: memindah pohon buah.

Ada beberapa pohon buah yang harus segera dipindah. Ia pasti datang. Pengumuman berita duka tadi masih sangat pagi. Sebelum jam 12.00 pasti sudah dimakamkan.

Pengumuman dari masjid itu sekaligus berfungsi sebagai 'surat izin tidak masuk kerja'. Bos tidak boleh menanyakan kenapa tidak masuk.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News