Malah Banyak yang Terlular di Spa Massage dan PSK Kelas Atas

Malah Banyak yang Terlular di Spa Massage dan PSK Kelas Atas
Malah Banyak yang Terlular di Spa Massage dan PSK Kelas Atas

jpnn.com - BEBERAPA tahun belakangan, kampanye memerangi penyebaran HIV/AIDS melalui hubungan seksual sangat gencar dilakukan. "Setialah pada pasangan dan jangan lupa memakai kondom (saat jajan)" begitulah kira-kira pesan yang banyak disampaikan. Bertahun-tahun kampanye ini sukses besar. Jumlah orang terjangkit HIV dari golongan "pemuja" seks bebas menurun dan kembali didominasi pengguna narkoba. Nah, ternyata kini trennya berbalik lagi. Kampanye itu membuat orang makin pede bahwa penyebaran HIV di golongan sudah turun dan mereka pun abai. Penggunaan kondom banyak tak dihiraukan.

Koordinator UPIPI (Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi) RSUD dr Soetomo dr Erwin Astha Triyono SpPD KPTI FINASIM berpendapat, bahwa faktor meremehkan dan egois kerap kali menjadi pemicu pelanggan seks kembali mendominasi sebagai pengidap HIV terbanyak. 

Dia membenarkan bahwa fenomena turunnya angka penderita AIDS karena hubungan seksual itu  disalahartikan pelanggan bahwa PSK zaman sekarang sudah aman dan terbebas dari HIV. Akibatnya, budaya yang egois dan tidak hati-hati muncul kembali. Ketika sedang bertransaksi, pelanggan mengabaikan prosedur penggunaan kondom dan sebagainya.

Belum lagi mereka yang memiliki pendapatan lebih terkadang ingin menggunakan jasa layanan seks lebih eksklusif. Misalnya, pergi ke spa massage atau menyewa PSK kelas atas. Dengan tarif yang juga tinggi, para pelanggan tersebut yakin bahwa kesehatan para terapis atau PSK terjamin. Alhasil, si pelanggan tidak mau menggunakan kondom dalam berhubungan.

Senada dengan Erwin, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya drg Febria Rachmanita mengatakan hal serupa. Berdasar data Dinkes Surabaya, sejak Januari hingga September, tercatat 118 ODHA berasal dari wiraswasta atau pebisnis. Kemudian disusul penjaja seks 90 pasien dan ibu rumah tangga 86 penderita.

Feny -sapaan akrab Febria Rachmanita- mengatakan, wiraswasta menduduki posisi teratas karena faktor 3 M, yakni man, mobile, dan money. Menurut dia, mobilitas pebisnis diketahui sangat padat dalam bekerja, seperti pergi ke luar kota. Nah, saat di luar kota, kemungkinan untuk "jajan" terbuka. 

"Mungkin mereka lupa. Biasanya sama istri kan tidak pakai kondom. Saat jajan ini, dia melakukan hal serupa. Padahal, dia belum tahu persis kondisi PSK," jelasnya.

Selain itu, faktor pendapatan menjadi pemicu seorang pria jajan di luar. Menurut Feny, penghasilan yang besar membuat mereka mulai macam-macam dalam menghabiskan uang. Apalagi rumah hiburan menjamur dengan menawarkan berbagai macam fasilitas.

BEBERAPA tahun belakangan, kampanye memerangi penyebaran HIV/AIDS melalui hubungan seksual sangat gencar dilakukan. "Setialah pada pasangan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News