Jumat, 14 Desember 2018 – 17:17 WIB

Mantan Jurkam Capres-Cawapres RI Akui Jadi Pencipta Hoaks Terbaik

Kamis, 04 Oktober 2018 – 02:00 WIB
Mantan Jurkam Capres-Cawapres RI Akui Jadi Pencipta Hoaks Terbaik - JPNN.COM

Mantan Juru Kampanye Nasional (jurkamnas) pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden RI Prabowo-Sandi, yakni Ratna Sarumpaet, mengakui dirinya sebagai pencipta hoaks terbaik dalam sebuah konferensi pers. Ratna menjadi trending topic media sosial (medsos) di Indonesia setelah postingan tentang klaim penganiayaannya menjadi viral dan mendapat dukungan dari para politisi.

Berawal dari satu kebohongan, cerita penganiayaan di Bandung yang diklaim mantan jurkamnas Prabowo-Sandi, Ratna Sarumpaet, berkembang menjadi drama politik.

Tak lebih dari 2x24 jam sejak cerita penganiayaannya beredar pada 1 Oktober, perempuan yang mengaku sebagai seniman di akun medsos-nya ini, justru mengaku bahwa ia merekayasa cerita tersebut.

"Kali ini saya pencipta hoaks terbaik. Ternyata, menghebohkan semua negeri. Mari kita ambil pelajaran dan bangsa kita ini dalam keadaan tidak baik, seperti yang saya lakukan ini, mari kita hentikan," ujar Ratna dalam konferensi pers Rabu (3/10/2018)

Fatalnya, klaim penganiayaan yang dialami Ratna terlanjur beredar menjadi komoditi politik.

Berawal dari cuitan anggota DPR-RI dari Partai Gerindra, Rachel Maryam, di media sosial (yang kemudian dihapus) pada hari Senin (1/10/2018), cerita penganiayaan itu menjadi viral dan mendapat tanggapan dari berbagai pihak.

Unggahan Rachel itu sendiri diteruskan lebih dari 400 kali. Beberapa politisi turut berkomentar atas kasus yang menimpa Ratna, salah satunya mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD.

Tak lama kemudian, foto Ratna dengan wajah bengkak dan mata sembap beredar luas di media sosial.

Foto Ratna itu kemudian ditanggapi oleh penyanyi Tompi, yang juga berprofesi sebagai dokter bedah plastik. Tompi memang bukan pengurus partai berkuasa tapi ia beberapa kali mendukung Capres Jokowi dalam berbagai postingannya.

Dalam unggahannya di Twitter pada tanggal 3 Oktober, Tompi menyebut luka yang diderita Ratna adalah bekas operasi.

Tudingan itu lantas dibalas Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief, yang menyebut Tompi sebagai dokter kardus.

Belakangan, beredar sebuah foto di media sosial yang membandingkan latar foto Ratna dengan dekorasi dinding di Rumah Sakit Khusus Bina Estetika, Jakarta.

Ratna sendiri menuturkan, kebohongan itu ia buat karena anak-anaknya menanyakan lebam di wajahnya.

“Saya terus mengembangkan ide pemukulan itu dengan beberapa cerita seperti yang diceritakan dan ada kebenarannya dengan apa yang saya katakan pada anak-anak saya.

Jadi selama seminggu lebih sebenarnya cerita itu hanya berputar-putar di keluarga saya dan hanya untuk kepentingan saya berhadapan dengan anak-anak saya. Tidak ada hubungannya dengan politik, tidak ada hubungannya untuk keluar.”

Capres Prabowo Subianto bahkan menggelar konferensi pers pada tanggal 2 Oktober, meminta pihak berwenang untuk mengusut pelaku kekerasan terhadap jurkamnasnya.

Keesokan harinya, Ratna justru mengungkap kebohongan yang diciptakannya.

“Jadi tidak ada penganiayaan. itu hanya cerita khayal yang diberikan entah oleh setan mana ke saya dan berkembang seperti itu, saya tidak sanggup melihat bagaimana Pak Prabowo membela saya dalam sebuah jumpa pers,” beber Ratna di depan pers di Jakarta.

Reaksi politisi

Menanggapi permintaan maaf Ratna pada hari Rabu (3/10/2018) sore, Prabowo Subianto turut meminta maaf kepada masyarakat. Ia bahkan langsung memerintahkan partainya untuk memecat perempuan asal Tapanuli Utara tersebut.

Beragam komentar, kecaman dan pembelaan-pun kembali muncul di media sosial.

Dahnil Simanjuntak, juru bicara tim pemenangan Prabowo-Sandi mengatakan di Twitter bahwa “Kebaikan dan kemurahan hati adalah kelemahan kami”, menanggapi pengakuan Ratna. Postingan inipun langsung mendapat komentar beragam.

Cawapres Sandiaga Uno, seperti dikutip berbagai media, bahkan mengatakan dirinya akan melapor apabila ada anggota tim-nya yang menyebar hoaks.

"Saya pernah memberikan pernyataan statement bahwa anggota badan kita yang melakukan hoaks, kita akan laporkan ke polisi itu pasti akan kita tindak lanjuti," ujar Sandi.

Sementara itu, Grace Natalie dari tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin mengatakan bahwa perbuatan Ratna begitu keji.

“Dari kemarin banyak media yang bertanya ke saya, asumsi yang terbangun pelaku adalah kubu Jokowi. Kami sangat bersyukur akhirnya kasus ini terungkap. Sekaligus jadi pelajaran yg amat baik bagi publik, jangan mudah percaya sebuah informasi. Selalu cek dan ricek,” ucap Ketua Partai Solidaritas Indonesia ini.

Anggota tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin lainnya, yakni Farhat Abbas, bahkan mengadukan perbuatan Ratna itu ke polisi. Dalam unggahan video di Instagram, Farhat menyebut dirinya berada di kantor polisi untuk melaporkan 17 orang terkait penyebaran fitnah.

Meski demikian, pihak polisi mengatakan Ratna Sarumpaet tidak bisa dijerat dengan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang seringkali berkaitan dengan fitnah di medsos.

"Kalau Bu Ratna kan tidak menggunakan Undang-Undang ITE. Tapi bisa dijerat dengan KUHP. Kalau hoax itu (terkait) ITE. Dia (Ratna) kan nggak menggunakan ITE," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Kubu Prabowo-Sandi tidak dianggap korban

Direktur Masyarakat Anti Fitnah/Hoax Indonesia, Septiadji Eko Nugroho, mengatakan tidak tepat jika kubu Prabowo-Sandi menganggap diri mereka korban dari kebohongan Ratna.

Septiadi berujar, tim pasangan Capres-Cawapres itu sejatinya bisa melakukan konfirmasi.

“Karena kalau korban itu baru berlaku ketika mereka dalam posisi tidak bisa melakukan verifikasi informasi, tidak langsung percaya begitu saja. Dan dalam kasus ini mereka bisa melakukan itu. Dan tidak sepatutnya mereka mem-broadcast (menyebarkan) info itu sebelum yakin betul kebenarannya.”

Septiadi bahkan menyebut Prabowo turut menjadi penyebar hoaks.

“Beliau jelas ikut sebarkan informasi sesat, beliau termasuk yang menyebarkan itu. Ini berbeda dengan orang yang mendapat kan saja tapi tidak ikut menyebarkan. Kemarinkan beliau sampai ikut menyampaikan jumpa pers. Itu kekeliruan yang fatal.”

 
SHARES
Komentar