Melihat dari Dekat Kehidupan Warga Penjaringan

Buang Hajat di Selokan Rumah, Masak ‎di Depan Pintu

Melihat dari Dekat Kehidupan Warga Penjaringan
Sarmi (80) warga Penjaringan, Jakarta Utara menunjuk septik tank yang ada di dalam rumahnya. FOTO: Mesya Moehamad/JPNN.com

‎Demikian juga Sarmi, 80. Perempuan tua ini hidup sendiri karena anak-anaknya sudah berumah tangga. Sarmi juga terbiasa buang hajat di dalam rumah, yang kotorannya dialirkan ke got.

Mereka menyadari, kebiasaan membuang hajat di selokan tidak sehat karena saat musim hujan, Penjaringan selalu jadi in‎caran banjir. Air limbah bercampur jadi satu.

“Iya siy, kami juga kebayang kalau banjir airnya sudah bercampur dengan kotoran manusia. Tapi mau bagaimana lagi, cuma di sini tempat tinggal kami satu-satunya," ujar Salima.

‎Beruntung pada Oktober 2014, ada sumbangan CSR dari perusahaan asal Swedia yang memberikan bantuan berupa pembuatan septik tank. Septik tank yang didesain dengan menggunakan sistem biofilter sehingga lebih ramah lingkungan.

Dosi Suparta dari Mecy Corps Indonesia Insist selaku disainer septik tank biofilter ini mengungkapkan, dengan cara ini warga akan lebih hidup sehat meski tinggal di gang sempit dan rumah dempetan.

Uniknya, septik tank ini tidak dibuat di luar rumah seperti layaknya kebiasaan warga berlahan luas. Septik tank ini dibuat di dalam rumah warga dan di atasnya dicor serta dikeramik. Septik tank ini juga tidak berbau dan bisa digunakan selama dua tahun. 

“Kenapa kami bikinnya di dalam rumah, karena rumahnya kecil-kecil. Jangankan halaman, untuk tidur saja sempit,” ujar Dodi.

‎Kini warga Penjaringan tidak lagi harus antri di WC umum atau buang hajat di selokan. Sudah ada septik tank multi fungsi di dalam rumah. Ya, selain sebagai penampungan kotoran, septik tank ini juga menjadi tempat tidur bagi warga. 

Tidak pernah terbayangkan di kota sebesar Jakarta, masih banyak warga asli (Betawi, red) yang ‎hidup di bawah garis kemiskinan. Saking miskinnya,

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News