Memaknai Pidato Bu Mega, Eks Gubernur Lemhanas Singgung Nepotisme Brutal

Memaknai Pidato Bu Mega, Eks Gubernur Lemhanas Singgung Nepotisme Brutal
Deputi Politik 5.0 Tim Pemenangan Nasional Ganjar Pranowo-Mahfud MD (TPN Ganjar-Mahfud) Andi Widjajanto. Foto: Antara//Narda Margaretha Sinambela

jpnn.com, JAKARTA - Deputi Politik 5.0 Tim Pemenangan Nasional Ganjar Pranowo-Mahfud MD (TPN Ganjar-Mahfud) Andi Widjajanto mengulas penggunaan diksi nepotisme, kolusi, dan korupsi dalam pidato politik Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri pada Minggu (12/11/2023).

Mantan gubernur Lembaga Pertahanan Nasional atau Lemhannas itu mengatakan ada pesan dalam pidato Megawati yang mendahulukan diksi nepotisme daripada korupsi.

Menurut Andi, selama ini mayoritas publik lebih terbiasa dengan diksikorupsi, kolusi, dan nepotisme atau KKN. Namun, Megawati yang juga Presiden Kelima RI justru menempatkan kata nepotisme mendahului korupsi.

"Biasanya kita menyingkatnya KKN, tetapi Bu Mega dalam pidato nuraninya menyebut NKK, yaitu nepotisme, kolusi, dan korupsi," kata Andi.

Putra tokoh militer almarhum Theo Syafei itu melanjutkan belakangan ini nepotisme memang menganggu demokrasi di Indonesia.

Andi menilai penetapan atau pengusulan bakal capres-cawapres Pilpres 2024 sebagai bagian dari perjalanan demokrasi di Indonesia juga diwarnai nepotisme.

"Di situlah nepotisme itu terlihat brutal," tutur mantan sekretaris Kabinet Kerja itu.

Selain itu, Andi menyebut nepotisme menuju penetapan capres-cawapres juga dilakukan dengan mengakali hukum.

Mantan Gubernur Lemhannas Andi Widjajanto mengatakan ada pesan dalam pidato Megawati yang mendahulukan diksi nepotisme daripada korupsi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News