Membangun Peradaban Cinta Lingkungan

Oleh: Fransiscus Go, Pemerhati Pendidikan & Ketenagakerjaan

Membangun Peradaban Cinta Lingkungan
Pemerhati Pendidikan & Ketenagakerjaan Fransiscus Go. Foto: dok pribadi for JPNN.com

jpnn.com - BAHWA sesungguhnya kita adalah satu kesatuan. Kita satu dan tidak (bisa) terpisahkan dari alam semesta. Udara yang dihirup dan asupan yang dimakan berasal dari alam.

Tubuh kita pun sungguh organik dan alami sifatnya. Jika alam rusak, kita juga rusak, demikian pula sebaliknya. Kita satu dengan alam.

Masalah iklim dan alam muncul karena aksi manusia yang kurang ekologis. Kesadaran akan kebersihan masih jauh dari dan perilaku mencemarkan masih bercokol dalam hidup bangsa kita.

Orang membuang sampah sembarangan, menggunduli hutan, menciptakan udara, darat dan laut yang tercemar. Alam yang rusak menunjukkan mental manusia yang juga rusak. Ada hal yang harus diubah dan diperbaiki.

Krisis pangan merupakan hasil dari dua krisis, yaitu krisis alam dan krisis manusia sendiri. Alam selalu punya cara untuk menyeimbangkan dirinya (detoks), sementara manusia selalu mencari alasan sebagai pembenaran situasinya.

Manusia mengalami krisis ketika sudah jauh dari alam dan tidak menghargai alam. Ini perihal pola pikir dan pola hidup.

Fenomena alam menunjukkan bagaimana alam bereaksi atas perlakuan manusia. Maka tanda-tanda alam adalah tanda-tanda tentang manusia juga. Alam bersahabat berarti manusia juga bersahabat, alam marah berarti manusianya serakah.

Keterkaitan ini penting sebab tidak ada seorang pun ingin merusak dan melukai dirinya sendiri. Hanya manusia kerap “bunuh diri” dengan melukai alam semesta.

Pemerhati Pendidikan & Ketenagakerjaan Fransiscus Go mengulas pentingnya menjaga alam dan krisis pangan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News