Memetakan Lahan Pertanian Lebih Mudah Gunakan Printer 3D

Memetakan Lahan Pertanian Lebih Mudah Gunakan Printer 3D
Memetakan Lahan Pertanian Lebih Mudah Gunakan Printer 3D

Bayangkan jika Anda bisa merasakan lahan pertanian langsung di tangan Anda, bisa memegang pegunungan dan lembah dengan jari-jari Anda, bahkan merasakan kawasan perairan yang melalui diantaranya. 

Penggunaan printer 3D untuk keperluan riset dan pengembangan pertanian sudah dilakukan di sebuah lahan peranian di negara bagian Australia Barat.

Para peneliti berhasil mencetak model dari proyek La Grange, selatan dari Broome, di Kimberley.

Departemen Pertanian dan Makanan di Australia Barat (DAFWA) menggunakan teknologi cetak 3D untuk membuat pemetaan dari lahan pertanian, yang memiliki uas hampir 3,5 juta hektar.

Data-data yang digunakan oleh peneliti Nick Wright berasal dari survei lokasi, beberapa ia ambil dari NASA.

"Sangat lama sekali kami berusaha mencari peneliti lain yang pernah menggunakan printer 3D untuk mewakili interaksi hidro-geologi," katanya. "Tapi dalam hal ini, kami menjadi perintis teknologi ini."

"Jadi setelah kami mampu mencetak model, dengan lapisan-lapisan, ada manfaatnya, yakni kita benar-benar memegangnya langsung di tangan kita sendiri. Kemudian bisa dilihat dari dekat sambil diputar-putar untuk kemudian benar-benar memahaminya, karena sangat berbeda kalau kita melihat modelnya dengan permukaan yang datar."

Memetakan Lahan Pertanian Lebih Mudah Gunakan Printer 3D
Nick Wright menggunakan mesin pencetak 3D untuk membuat model pertanian di kawasan La Grange, Australia Barat. Koleksi DAFWA.

Wright menjelaskan model 3D ini akan digunakan sebagai bantuan presentasi dan alat komunikasi.

"Memang tidak dimaksudkan untuk menggambarkan secara tepat dari apa yang terjadi," katanya. "Tapi ini menciptakan model konseptual, sehingga orang-orang memahami bagaimana satu sama lain saling berhubungan."

Menurut pengakuan Wright dibutuhkan dana sekitar $2000 atau Rp 20 juta pada awalnya pengeluaran untuk printer 3D, yang dianggapnya cukup murah.

"Satu kilogram plastik sekitar $30 atau Rp 300 ribu, dan untuk membuat model seperti ini memiliki beberapa ratus gram plastik," katanya.

"Ini juga sangat mudah diterapkan. Untuk membuat pertanian menjadi model 3D topografi membutuhkan beberapa jam lewat perangkat lunak atau software.

"Anda bisa mencetak di sore hari dan melihat fitur apa yang telah dicetak dalam 50 tahun terakhir," jelas Wright. "Ini cara terbaik untuk menunjukkan jenis teknologi apa yang bisa dilakukan."


Bayangkan jika Anda bisa merasakan lahan pertanian langsung di tangan Anda, bisa memegang pegunungan dan lembah dengan jari-jari Anda, bahkan merasakan


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News